Tentang Kami

Dipertemukan secara tak sengaja pada penghujung tahun 2011. memiliki minat yang sama. ketertarikan yang sama. mimpi yang sama.sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat karya bersama. KAMI para Manusia Abadi

Minggu, 13 Januari 2013

TSMJ #12 (By Kanata)



Makna Sebuah Pertemuan

Aku tak tahu mana yang lebih bodoh; fakta bahwa aku sedang duduk di kursi rotan di ruang tamu sebuah rumah yang bergaya arsitektur abad ke-17, disuguhi penganan seperti bola-bola berwarna coklat dan secangkir besar teh hangat,  dan ditemani kesunyian karena pria tua yang kuduga kakeknya Vanya memilih menyibukkan diri dengan menghisap tembakau dari pipa kunonya sambil melihat jendela dibanding dengan mengajakku bicara; atau fakta lain bahwa ini hari ketiga aku melakukan ritual ini. Dan Vanya masih menolak menemuiku.
            “Katanya Vanya masih belum siap buat ketemu.” Ucap wanita tua yang mengenalkan dirinya sebagai Uti Vanya. “Bukannya Uti tak mengerti perasaan Nak Nata, tapi tahu sendiri kalau gadis muda sudah merajuk susah sekali dibujuknya.”
            Sama seperti hari-hari sebelumnya, yang kulakukan hanyalah diam mendengarkan sambil memegang erat bungkusan yang belum berhasil aku serahkan langsung pada Vanya.
            “Bagaimana kabar sekolahnya?” Aku tak tahu apakah Uti sengaja atau tidak. Yang jelas setiap kali datang selalu pertanyaan-pertanyaannya diulang.
            “Baik. Sekarang saya kelas tiga. Betul.  Ujian sekitar bulan Maret. Rencananya mau ngelanjutin ke ITB. Iya, saya pernah ketemu Kak Revo disana. Nanti saya sampaikan salamnya jika ketemu lagi. Biasa aja, Vanya suka melebih-lebihkan.” Jawabku dalam hati karena aku tahu urutan pertanyaannya pastilah:
            “Sekarang kelas berapa? Oh ya? UN bulan apa? Mau lanjut kuliah kemana? Revo, kakaknya Vanya juga kuliah disana loh. Salam ya buat Revo?! Jangan nakal-nakal di kampung orang!”
            Tiga bulan berlalu sejak pertemuan tak sengajaku dengan Janet dan Hyungjun. Butuh hanpir 100 hari bagiku mengumpulkan keberanian untuk menemui Vanya seperti yang mereka anjurkan. Hari-hari yang penuh kebimbangan.
            Sejujurnya aku amat ingin menemui Vanya lagi. Namun aku juga sangat takut akan apa yang terjadi ketika pertemuan tersebut benar-benar terjadi. Seminggu yang kulakukan semenjak tiba di Jogja adalah memandangi rumah ini dari kejauhan, merasa ragu hendak melangkah atau tidak.
            Sampai akhirnya pertemuan yang cukup tak disengaja itu pun terjadi. Aku yang sedang berbelanja cemilan sebagai bekal duduk dan melamun di taman seberang rumah Vanya harus bertemu dengannnya di sana.
            Entah dorongan dari mana, alih-alih lari dan bersembunyi aku malah menampakkan diri di hadapannya. Diluar dugaan ternyata Vanya merasa jauh lebih kaget terhadap pertemuan tersebut dibanding diriku. Dia lari, terluka, dan mengurung diri di kamar.
            Tiga sore aku datang. Tiga sore pula aku hanya ditemani Akung dan Uti.
            Seakan keadaan tak bisa bertambah rumit, terdengar suara kendaraan berhenti depan rumah, dilanjutkan dengan suara pagar terbuka, kemudian suara salam. Sosok cowok tinggi berbadan atletis dengan kulit yang terlalu banyak terjemur sinar matahari muncul dari pintu ruang tamu. Senyum di bibirnya seketika berubah menjadi  kerutan di dahinya.
            “Aih, Aka pikir tidak ada tamu?!” jelas itu pernyataan basa-basi karena bagaimanapun kami sempat bertemu sekilas ketika dirinya keluar dari lorong yang kutahu mengarah ke kamar Vanya dengan tergesa-gesa seperti pencuri yang tertangkap basah.
            “Aka, kenalkan. Ini Kanata. Temen Vanya juga.” Jelas Uti.
            Kami berjabat tangan dengan sopan. Aku catat baik-baik kalimat beliau.
            “Juga.”
            Artinya posisi aku maupun Aka adalah teman Vanya. Tak lebih.
            Aka duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Kesunyian mengisi udara selama beberapa menit.
            Akung berdiri sambil berdehem pada Uti. Mereka berpandangan. Akung mengangguk. Uti tersenyum paham.
            “Sepertinya Uti harus meninggalkan kalian mengobrol berdua. Katanya Akung pengen dipijit sama Uti.” Ucapnya sambil tersenyum yang tak bisa kutangkap maknanya. “Maklum sudah tua. Jadi perlu banyak perawatan.”
            “Kalian ngobrolah dengan tenang.” Ucap Akung dengan suaranya yang khas.
            Kesunyian kembali tercipta. Aku menunggu. Dia juga menunggu.
            “Saya dengar Kanata DULU dekat dengan Vanya.”
            “Saya dengar juga bahwa SEKARANG Vanya dekat dengan Chakra.” Jawabku segera.
            Cukup aneh sebetulnya menggunakan kata Saya untuk diri sendiri dan menyebutkan nama jelas dari lawan bicara.
            “Panggil Aka aja. Gua biasa dipanggil kayak gitu.” Ujarnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Aku merasa ini adalah sebuah perang batin antara kami berdua. “Bisa dibilang saat ini gua cowoknya Vanya.”
            Jika saja aku sedang meneguk air tentunya air tersebut akan menyembur keluar. Suatu pernyataan yang terlalu blak-blakkan menurutku.
            “Saya dan Vanya dulu deket karena sama-sama berasal dari Indonesia.” Aku tak ingin kalah dalam adu mental ini. Segurat warna merah muncul di tenguknya ketika aku jelas-jelas tak terprovokasi dan tetap menggunakan kata ganti Saya.
            “Tak terhitung banyaknya waktu yang kami habiskan bersama dalam dua tahun tersebut. Sangat menyenangkan.” Kali ini telingannya ikut memerah.
            “Gua juga denger sudah lebih dari dua tahun ini kalian sama sekali gak menjalin kontak.” Entah memang sudah wataknya yang angkuh atau ini hanya sekedar metode pertahanan dirinya yang ingin melindungi Vanya, aku tak tahu pasti. Yang jelas sepertinya bukan pembicaraan ringan semacam cuaca atau sebagainya yang akan kami bahas saat ini.
            “Banyak hal yang terjadi dalam dua tahun ini.” Ucapku dengan suara setenang mungkin.
            “Oh ya? Gua pengen denger dong semuanya!”
Ya Tuhan, aku sudah terlalu lelah untuk menghadapi ini. Seluruh daya upayaku sudah aku pakai untuk melakukan perjalanan ke Jogja. Apakah masih harus ditambahkan dengan menghadapi “pacar” Vanya yang disebut Uti sebagai “teman”, sama sepertiku?
“Saya merasa tak berkewajiban untuk melakukannya.” Melihat situasi yang ada, aku memilih untuk menghindari konflik. “Saya pamit. Besok kesini lagi.”
Tanpa menunggu persetujuannya aku bangkit dan berjalan pulang ke penginapan.
Aku berjanji akan terus datang hingga Vanya mau menemuiku. Aku tak mungkin pulang ke Bandung dengan sebuah cerita yang menggantung.
#
Malam telah amat larut. Hanya suara derum motor yang sesekali melintas yang menjadi pengisi kesunyian. Mataku sangat sulit untuk diajak terpejam. Pikiranku melantur kemana-mana sementara kedua tangaku memainkan sebuah purwarupa dari tongkat sihir merah jambu yang telah digambar Vanya.
Jika Vanya dapat membanggakan kemampuannya dalam menggambar, maka aku bisa dikatakan ahli dalam membuat prakarya. Gambar dua dimensi Vanya aku wujudkan dalam bentuk tiga dimensi. Kayu Akasia yang aku ukir secara hati-hati dengan tingkat presisi yang tak kalah teliti. Panjangnya berkali-kali aku ukur untuk memastikan agar tepat seperti yang diminta olehnya. Karena pada dasarnya kayu akasia berwarna kecoklatan, maka aku terpaksa merendamnya selama berhari-hari dalam cat kayu berwarna merah jambu.
Kupikir karya seniku cukup sempurna kecuali satu pertanyaan besar, bagaimana caranya Mr. Olivander memasukan inti tongkat ke dalam kayunya? Apakah dibutuhkan sebuah sihir sungguhan agar nadi naga dan sebagainya bisa berada di tengah tongkat tanpa merusak kayunya?
Menyadari aku hanya seorang Muggle (begitu sang Penulis memberi istilah bagi rakyat non-sihir) maka aku menggunakan metode yang paling masuk akal untuk memasukan bulu burung merak ke dalam tongkat buatanku: Melubanginya.
Butuh 5 hari untuk membuat lubang mungil yang sejajar dengan kayu yang aku ukir. Sebuah pekerjaan yang sangat melelehkan dan membutuhkan ketelitian tinggi karena penyimpangan satu mili saja bisa berakibat lubangnya keburu keluar sebelum mencapai ujung.
Pekerjaan yang tak kalah membutuhkan kesabaran adalah memasukan bulu burung tersebut ke dalam. Jika aku terburu-buru melakukannya akan mengakibatkan bulu tersebut rontok dan kehilangan sisi magisnya.
Namun semua usaha yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh tentunya akan membuahkan hasil yang maksimal. Sejujurnya aku sangat puas dengan hasil karyaku ini. Semoga Vanya bisa merasakan aura kesungguhan menguar dari tongkat impiannya ini.
Namun yang jadi pertanyaan adalah jika dirinya tak mau menemuiku, bagaimana caranya Vanya bisa merasakan momen magisnya?
Meski tak benar-benar menginginkannya, aku tertidur dengan pertanyaan yang saling menumpuk.
#
Aku bangun dengan perasaan sungguh tak karuan. Rencana awalnya adalah pada hari ini aku sudah berada di Bandung karena libur semesteran sudah berakhir. Sebelum bangkit dari tempat tidur aku berkali-kali merapal kalimat yang sama.
“Jika hari ini masih gagal, aku pulang dan merelakan semuanya.”
Dengan waktu yang cukup lama berada di Jogja, sebagian besar objek wisata yang sekiranya tak membutuhkan biaya besar telah aku kunjungi. Yang artinya Borobudur dan Prambanan tak jadi aku kunjungi karena kudengar tiket masuknya saja 75 ribu rupiah. Sungguh biaya yang terlalu banyak buatku.
Kuputuskan untuk berada di penginapan  seharian. Menyiapkan energi untuk menghadapi sore hari sambil mengepak barang. Menyingkirkan hasrat untuk datang ke sekolah Vanya dan mengamati kegiatannya seperti stalker yang sering aku lihat di televisi.
#
Ponselku berdering dari kamar sementara aku sedang mengobrol dengan Mas Pano, penjaga penginapan, di front office. Setengah malas aku menuju kamar. Pasti dari Diane lagi. hampir setengah jam sekali dia bertanya kapan aku pulang sambil memastikan bahwa semua barang titipan dia telah aku beli.
Alih-alih nama Diane yang muncul, sederet nomor yang tak kukenal menghiasi layar ponsel.
“Halo? Nata?”
Deg!
Suara Vanya terdengar di ujung sambungan.
“Vanya?” Ucapku meski dugaanku tak mungkin keliru.
“Iya, Nat.” Balasnya datar. “Kita bisa ketemu di Benteng Vredeburg jam satu?”
“Tentu.” Jawabku spontan.
“Aku tunggu ya?!”
Klek.
Sambungan terputus.
Setelah berhasil mnegatasi kekagetan aku lalu melihat jam. 10 menit lagi menuju waktu janjian. Tanpa banyak mempersiapkan diri aku segera pergi karena bagaimanapun Benteng tersebut letaknya lumayan jauh dari penginapan.
#
Sosok berseragamnya berdiri di pintu masuk Benteng. Masih ada jarak 20 meter diantara kami. Vanya berusaha tersenyum seramah mungkin saat aku berjalan mendekat. Namun bertahun-tahun aku kenal Vanya,  jenis senyum tersebut bukanlah yang masuk kategori baik-baik saja. Ada sesuatu yang telah terjadi. Aku tahu pasti.
Saat jarak yang tercipta hanya 2 meter tiba-tiba saja Vanya berlari dan memelukku sebelum akhirnya terisak.
“Kamu jahat!” Ucapnya lirih.
Aku membelai rambutnya, menikmati aroma tubuhnya, merasakan berat badannya.
It’s just like years ago, but without hope and happiness....
Sungguh, bukan seperti ini pertemuan kami dalam bayanganku.

Senin, 24 Desember 2012

TSMJ #11 (By: Vanya)


Menemukan yang Sudah Tak Dicari

Sudah berpuluh-puluh menit aku melangkahkan kakiku ke sana ke mari dari satu toko kt toko lain yang ada di mall ini. Kalau saja Aka tidak menemaniku, ini akan menjadi jalan-jalan yang paling membosankan dan membingungkan. Bagaimana tidak? Mencari hadiah untuk ulang tahun pernikahan Akung dan Uti itu lebih membingungkan daripada memecahkan soal Logaritma dan semacamnya.
            “Udah kubilang, boneka Teddy Bear aja. Gampang kan?” usul Aka. Entah sudah berapa kali ia mengusulkan ide bodoh itu dan entah sudah berapa kali aku menolaknya.
            “Aka,” aku menatap Aka penuh rasa jengkel. “Masa iya ulang tahun pernikahan Akung dan Uti yang ke-40 mau dikasih boneka Teddy Bear?!”
            Tanpa kuduga, Aka justru membulatkan matanya. Aku tak tahu apakah ia benar-benar kaget atau hanya berpura-pura kaget. “40 tahun? Kalau gitu, jangan Teddy Bear. Itu lustrum. Harus dikasih hadiah special!” kata Aka dengan nada seorang presiden yang akan membangun perusahaan nuklir untuk negaranya. Dan sekarang aku tahu bahwa Aka hanya berpura-pura bersemangat—hanya untuk menggodaku.
            Aku memutar kedua bola mataku dan melengos pergi dan memilih untuk memasuki salah satu toko DVD yang sepi. Aku berkeliling dengan langkah pelan. membaca tulisan-tulisan yang ditempel di depan rak. Tulisan-tulisan itu menginformasikan tentang jenis music apa yang berderet di belakangnya. Ada rak yang semuanya adalah album band-band local yang beraliran pop, album boys band dan girls band yang begitu banyak seperti jamur yang tumbuh lebat di musim hujan, dan ada juga album-album milik musisi internasional yang taka sing lagi di telinga. Di rak yang terletak paling pojok bertuliskan ‘Musik Keroncong’ menarik perhatianku. Akung dan Uti sering mendengarkan music keroncong jika tak ada hal lain yang ingin mereka kerjakan. Sayangnya aku tak mengerti mana yang harus aku pilih, sedangkan tahu tentang music keroncong pun tidak. Lagi-lagi aku melengos kecewa. Lalu aku memutuskan untuk keluar.
            Saat aku berbalik, tiba-tiba saja Aka sudah berdiri di hadapanku. Membuatku sedikit terkejut. “Udah dapetin kadonya?” tanyanya.
            “Aku menghela napas pelan, “Belum,” jawabku, lalu beranjak dari toko yang penuh dengan rak berisikan DVD dan VCD itu.
            “Udahlah, kita makan dulu ya? Udah siang juga,”
            “Tapi aku belum dapetin kado buat Akung sama Uti, Ka!” kataku jengkel. Entahlah, akhir-akhir ini aku memang sensitif.
            “Iya, Vanya. Habis makan baru lanjut cari. Sampe mallnya tutup aku tetep nemenin. Tapi makan dulu, ya?” rayu Aka.
            Sejak dua minggu yang lalu, saat pensi sekolah malam itu, Aka memang lebih sabar menghadapi aku yang—harus kuakui—kadang-kadang memang kekanak-kanakkan. Entah apa yang terjadi pada Aka, yang jelas aku bersyukur kesalahpahaman malam itu dapat terselesaikan dan Aka menjadi lebih pengertian terhadapku. Sebenarnya aku merasa sedikit curiga dengan Janet yang malam itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku saat aku duduk di café sendirian untuk melepas kekesalanku pada Aka. Malam itu, aku berbicara panjang lebar bersama Janet yang ternyata datang ke Indonesia bersama HyungJun. Sampai pada akhirnya Aka datang menyusulku. Aku juga tak tahu bagaimana ia bisa tahu aku sedang di café itu. Yang jelas, malam itu, Aka juga ikut berbincang-bincang dengan Janet dan HyungJun setelah aku mengenalkan mereka padanya. Dan saat berada di tempat parkir café, sebelum kita berpisah, aku sempat mengobrol soal Nata bersama HyungJun dan Janet membicarakan sesuatu—yang entah apa itu, bersama Aka.
            “Jadi mau makan di mana?” tanyanya memudarkan lamunanku yang singkat.
            “Terserah kamu aja,” kataku pada akhirnya yang berarti menyetujui ajakan Aka untuk makan.
            Aka mengajakku di lantai paling atas dimana ada sebuah foodcourt yang selalu ramai memamerkan menunya. Aku memilih tempat duduk paling luar dan Aka memesan makanan untuknya dan untukku setelah aku tidak berhasil meyakinkan Aka bahwa aku hanya butuh segelas jus alpukat. Lalu Aka membiarkanku menunggu sejenak.
            “Kamu pesen apa?” tanyaku pada Aka yang baru saja meletakkan pantatnya di kursi.
            Spaghetti bolognaise,” jawab Aka. “dan harus habis,”tambah Aka sambil tersenyum.
            Baru saja aku hendak protes atas ucapan Aka barusan, dua piring spaghetti dan dua lemontea datang dan memenuhi meja kecil di hadapanku dan Aka. Aku menarik niatku untuk protes karena tiba-tiba saja sepiring spaghetti dengan porsi pas itu tampak sangat menggoda dimataku sekarang. Segera kuambil garpu yang disediakan dan melahap spaghetti itu dengan penuh semangat. Rasanya aku juga sudah membuang gengsiku jauh-jauh karena saat ini Aka tengah melihatku melahap spaghetti-ku dengan penuh antusias dengan ekspresi yang sepertinya-tadi-ada-yang-bilang-tidak-mau-makan. Aku tidak peduli.
            “Mau tambah spaghetti bolognaise­-nya, Nona?” goda Aka.
            “Nggak lah, Nat,”
            “Nat?” tanya Aka dengan kedua alis terangkat.
Astaga! Betapa bodohnya aku bisa mengucap nama orang itu lagi! Di depan Aka pula! Bodoh! Kata ‘Nona’ itu memang selalu berhasil memancing ingatanku tentang Nata.
“hmm… Nanti maksudku. Tadi aku belum kelar ngomong,”aku memaksakan untuk tertawa agar Aka tak curiga lagi. “Oh ya, Ka, malem itu, waktu ketemu Janet dan HyungJun kamu ngobrol apa aja sama Janet?” aku berusaha membelokkan obrolan.
“Kamu tahulah pasti. Waktu itu kan kamu duduk di sebelahku,”jawab Aka sebelum menenggak habis lemontea-nya.
“Bukan waktu di dalem café, tapi di parkiran,”
Aku sedikit menangkap ekspresi gusar di wajah Aka yang kemudian berhasil di buang oleh Aka. “Oh itu, soal Nata,”
Mataku tak bisa berkompromi dengan otakku karena saat ini kedua bola mataku seperti hendak meloncat dari lubangnya saking terkejutnya aku. “Na… Nata?” kataku masih tak percaya.
“Tapi itu nggak penting-penting amat kok, aku Cuma tanya soal Nata sedikit. Oh iya, ayo cari kado untuk Akung dan Utimu! Keburu sore, yuk!” Nata mulai berdiri dan aku pun mengikutinya. Aku tahu, Aka mengalihkan pembicaraan ini. Bahkan aku yakin Aka tahu bahwa aku berbohong soal ‘Nat’ tadi. Oh, lagi pula siapa yang percaya dengan alibi murahanku tadi?
Sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang Aka dan Janet omongkan malam itu. jika benar soal Nata, apa yang diinginkan Aka dari obrolan soal Nata itu? tetapi aku tidak mungkin bertanya secara langsung kepada Aka karena itu akan menjadi ide yang sangat buruk. Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan mulai berpikir lagi apa yang harus aku berikan kepada Akung dan Uti di ulangtahun pernikahan mereka.
“Gini aja,”lagi-lagi Aka membuyarkan lamunan singkatku. “Gimana kalau benda yang mau kamu kasih ke mereka itu adalah buatan tanganmu sendiri. Pasti lebih berkesan,” lanjut aka.
Oke, aku akui kali ini ide Aka tidak buruk. Bagus malah! Bukankan jika hadiah itu dibuat sendiri akan lebih puas dan lebih bangga ketika memberikannya kepada orang lain ketimbang membeli? Tentu saja. Tapi yang menjadi masalah kali ini adalah: apa yang harus aku buat sebagai hadiah ulangtahun pernikahan Akung dan Uti yang ke-40?
“Tapi bikin apa?” tanyaku lemas. Padahal beberapa detik yang lalu baru saja aku semangat.
“Apa aja. Mereka akan menghargai apapun pemberianmu, Vanya,” Aka tersenyum. Kalau sedang begitu dia terdengar seperti kakakku saja.
            Aku berpikir sejenak sambil memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di mall ini. Dan aku rasa satu ide telah berhenti sejenak di kepalaku dan memotivasiku untuk menggerakkan mulutku dan memberitahukan ide itu pada Aka, cowok yang penuh dengan kesabaran sekaligus pacarku ini.
            “Gimana kalau album foto?” kataku dengan cengiran lebar seolah-olah tidak ada ide yang lebih menarik dari itu.
            Aka tampak berpikir sejenak,”isinya foto apa?”
            “Isinya nanti aku kasih foto Akung sama Uti dulu waktu kakak pertamaku lahir sampe foto mereka yang sekarang. Terus nanti juga ada fotoku sama kakak-kakakku, gimana?”
            “Bagus! Nah sekarang kita cari bahannya aja dan cepet-cepet bikin. Ulangtahunnya lusa kan?”
            Aku mengangguk penuh semangat. Aku akan membuat suatu karya, sebentar lagi. Sebentar lagi.
###
“Ini ada kue bikinan Uti, dimakan lho ya,”kata Uti yang membawa sepiring kue brownis dan dua gelas sirup jeruk. Belum sampai masuk ke kamarku, aku sudah menghadang Uti di depan pintu kamarku agar tidak tahu tentang hadiah yang kubuat bersama Aka itu.
“Sini Vanya bantuin, Uti. Nah, uti bisa nyiramin tanaman lagi, hehe…”
            Uti melihat kamarku sebentar lalu tersenyum pada Aka. “Pintunya dibuka gini terus ya, ndak boleh ditutup lho. Kalian ndak ngapa-ngapain to?” tanya Uti penuh selidik.
            “Ya ampun, Uti. Vanya anak baik kok Uti, Vanya sama Aka nggak ngapa-ngapain,” kataku meyakinkan.
            “Ya sudah, Uti ke depan dulu ya. Dimakan itu kuenya,” Uti tersenyum pada Aka lagi dan berjalan menuju halaman depan untuk membantu Akung menyirami tanaman.
            Aku kembali duduk di sebelah Aka dan meletakkan makanan dan minuman di atas meja belajarku. Lalu aku kembali membantu membuat album foto dengan menempel foto-foto yang ada di album buatanku dan Aka.
            “Yaaah, selotipnya habis! Bentar ya aku cari dulu,” aku membuka semua laciku tetapi tidak ada selotip maupun lem di sana.
            “Nggak ada, Ka. Aku pergi dulu ya, mau beli selotip. Oh sama keju deh, brownisnya ga menarik banget kalo nggak ada kejunya. Hehe…”
            “Mau aku anterin?” tawar Aka penuh sayang.
            “Nggak usah,” aku tersenyum lalu pergi ke sebuah supermarket yang hanya beberapa ratus meter dari rumah, salah satu keuntunganku tinggal di sini.
            Aku memasuki supermarket itu dan langsung menuju rak tempat keju cedar biasanya ditata. Aku mengambil satu-satunya keju cedar yang ada di rak itu, dan ternyata tangan seseorang juga hendak mengambilnya. Aku segera melepaskan keju itu, “Oh silakan diambil,” kataku. Aku rasa orang itu sempat berterimakasih padaku. Aku pun langsung pergi ke rak tepung karena sebelum aku pergi Uti memintaku untuk membelikannya seplastik besar tepung terigu. Kuambil satu plastic tepung terigu lalu segera beralih. Ketika aku kesulitan menemukan selotip, aku bertanya kepada salah satu pegawai di supermarket itu dan pegawai itu membawaku ke tempat selotip ditata sedemikian rapi bersama beberapa alat tulis lainnya.
            Saat tanganku hendak meraih selotip bening itu, tanganku dihentikan oleh tangan seseorang yang rupanya adalah tangan yang sama dengan pemegang keju ceddar tadi.
“Ini, Nona. Untukmu saja,” orang itu menyodorkan kotak persegi panjang yang tidak terlalu besar yang ternyata adalah keju ceddar.
Aku mendongak ke pemilik tangan itu. sosok itu adalah seorang laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi. Jauh lebih tinggi dariku. Sayangnya, mataku tidak membohongiku karena saat ini yang berdiri tepat di depanku dan tengah menyodorkan keju cedar itu adalah orang yang sangat kukenali. Orang yang kucari. Dulu…
“Hai, Nona Vanya?” sapa Kanata Anggara Wiguna.
Tubuhku seperti dibekukan saat itu juga, kerongkonganku terasa kering dan perih. Tubuhku gemetar dan berkeringat dingin. Rasanya seperti ada sesuatu yang memeras perutku dan membuat jantung yang ada di dadaku meloncat-loncat tak terkendali. Lidahku terasa kelu dan tak tahu harus bicara apa. Aku juga tak tahu harus bagaimana. Aku hanya seperti patung yang bermimik kaget. Tapi aku punya satu keinginan pasti: menghilang dari hadapan orang itu dan dari tempat ini.
Beberapa detik kemudian, aku tahu, tubuhku tak lagi lumpuh. Segera saja aku menuju kasir yang sepi dan membayar tepung serta selotip itu dan cepat-cepat keluar dari supermarket itu. Dan tentu saja, seharusnya aku tahu kalau Nata akan mengikutiku.
“Vanya, tunggu!”
Orang itu memintaku untuk berhenti tetapi aku justru terus berjalan. Orang itu berlari dan aku juga berlari. Aku berlari semakin cepat sampai aku tidak menyadari ada lubang di jalan itu yang membuatku terjatuh menghantam aspal. Aku meringis kesakitan dan mencoba bangun kembali dan berlari lagi. Aku tahu lututku terluka tapi aku tak menghiraukannya. Aku hanya ingin pergi meninggalkan orang itu. orang yang dulu menjadi alasanku untuk mengorbankan sekolahku di London. Orang yang seharusnya sekarang membuatku tertawa bahagia karena telah menemukannya dan bukannya berlari menjauh seolah-olah orang itu akan menerkamku sewaktu-waktu. Tetapi sepertinya memang begitulah kenyataannya. Orang itu bisa melukai hatiku sewaktu-waktu—bahkan sekarang sudah begitu.
            Aku baru sadar bahwa cairan bening yang hangat mulai menetes dari kedua mataku. Aku mencoba menyeka airmataku sendiri dengan punggung tanganku seraya kakiku terus berlari menuju rumah. Begitu sampai di rumah, aku segera masuk ke kamarku yang pintunya terbuka lebar. Saat aku masuk, aku menemukan Aka yang tengah mengeluarkan seisi kotak pink milikku yang beberapa bulan yang lalu kutaruh di bawah tempat tidurku. Astaga! Apa lagi sekarang? Mengapa semuanya semakin memburuk?
            “Aka, kamu ngapain?!” tanyaku masih dengan wajah yang sembab. Bahkan air mata itu kembali menetes.
            Aku merebut foto-foto dan benda-benda lain yang berhubungan dengan Nata dan melemparnya ke seluruh ruangan sehingga membuat seluruh kamarku berantakkan. Aka hanya bisa menatapku dengan tatapan kaget dan penuh penyesalan. Ia mencoba meminta maaf padaku, tetapi sepertinya moodku sedang sangat buruk dan justru mengusirnya. Kedua mata Aka tampak sangat terluka dan itu membuatku enggan untuk menatapnya dan semakin keras untuk mengusirnya. Sampai-sampai Uti dan Akung datang dan memelukku untuk menenangkanku. Aku menangis tersedu-sedu sampai aku tak bisa melihat pangkal dari tangisanku. Aku hanya merasa sangat kacau. Dan perasaan itu membuatku tak terkendali. Aku benci keadaanku yang seperti ini. Ini semua karena orang itu yang bisa-bisanya muncul kembali dan membuat aku kacau untuk sekali lagi.
            Nduk, kamu ini kenapa lha kok nangis kayak gitu?” tanya Akung sesaat setelah tangisku mereda.
            “Nggak apa-apa Akung, tadi Vanya Cuma kesel aja sama Aka,”
            “Udah, minum teh anget ini dulu terus istirahat ya nduk,”Uti datang membawakanku secangkir teh hangat.
            Aku meminumnya sedikit lalu meletakkannya di atas mejaku. “Terimakasih, Uti, Akung,” kataku tulus.
            “Oh iya, tadi Aka memberikan Uti kresek belanjaanmu sama ini keju cedar yang katanya tadi dibawain sama temen kamu yang satunya,” kata Uti lagi.
            Aku hanya melirik sekilas kresek putih berlogokan supermarket yang kukunjungi tadi dan sebuah keju cedar yang tadi dibawa Nata. Dan tentu saja, yang dimaksud Uti dengan temanku yang lain itu adalah Nata. Itu berarti Aka sudah bertemu dengan Nata. Pikiranku kembali melayang ke mana-mana. sampai akhirnya Uti dan Akung menyuruhku untuk tidur saja. Aku mengiyakan walaupun aku tahu aku tidak akan bisa tidur. bagaimana bisa aku tertidur sedangkan Nata membayangiku sangat kuat bahkan lebih kuat dari hantu dan Aka yang telah kulukai. Lagi-lagi cairan bening yang hangat itu turun mengikuti gravitasi. Barulah aku sadar betapa perihnya lututku yang ternyata mengeluarkan cukup banyak darah. Aku memutuskan untuk mengobatinya sejenak lalu kembali ke kamar. Aku yang tak mampu memejamkan mata memilih untuk menyelesaikan album foto itu semampuku. Setidaknya membuatku mengerjakan sesuatu dan tidak hanya berbaring di tempat tidur untuk membasahi bantal dengan air mata dan ingusku.
###
            Langit nampak indah dengan warna jingga keunguan di ufuk barat. Pertanda bahwa matahari sedang mengucapkan selamat tinggal sementara. Bahwa sang dewa cahaya itu akan pergi untuk menerangi belahan bumi bagian lain dan baru akan kembali menerangi tempat ini lagi, kurang lebih dua belas jam lagi.
Tiba-tiba saja ingatanku kembali ke beberapa jam yang lalu saat bertemu dengan Nata dan mendapati Aka tengah membuka kotak pink “harta karun” ku. Semuanya terasa sangat buruk hari ini. Bahkan bunga mawar yang baru saja mekar di halaman depan terasa sangat menyedihkan di mataku saat ini.
            Aku menghembuskan napas berat seraya kembali mengumpulkan foto-foto dan benda-benda yang berhubungan dengan Nata. Kupandangi sekali lagi foto-foto itu. Foto-foto itu membuatku sadar akan sesuatu: bahwa aku tak pernah benar-benar berhenti menginginkannya untuk kembali. Bahwa aku tak benar-benar telah melupakan orang itu beserta kenangan yang telah terukir indah dan mempunyai ruang tersendiri di hatiku. Selama ini Nata tak benar-benar telah menghilang dari otak dan hatiku, hanya saja perasaan itu terselip di antara tawaku bersama Aka. Itu saja.
            Nduk, itu ada temenmu yang datang,” kata Uti sambil mengusap rambutku yang sudah mulai memanjang.
            “Siapa, Uti?” tanyaku.
            “Uti ndak tahu namanya, Uti baru sekali lihat. Oh, itu nduk! Yang ada di fotomu itu, lha ya itu orangnya,”
            Hatiku mencelos.
            Nata. Mau apa dia kemari?

Minggu, 07 Oktober 2012

TSMJ #10 (By Kanata)


Kejujuran yang Sangat Mahal

Di sana, kulihat dirinya sedang memesan semangkuk besar ice cream. Tetapi, sebelum sempat dia menyendokkan ice cream itu ke mulut, aku mendekatinya sambil tersenyum. Terbaca jika ekspresi yang dia lontarkan adalah sebuah kekagetan. Dia tak jadi makan dan malah menatapku dengan mata terbelalak.
Dia mengucek-ngucek matanya. Dia bertanya-tanya apakah ini nyata atau hanya sekilas imajinasi kosong? Aku tak bisa menyembunyikan senyum.
Dia sekilas menutup mata sebelum akhirnya membukanya lagi. Aku masih berdiri di hadapannya.  Sepertinya dia mulai menyadari bahwa aku memang nyata adanya.
Sejujurnya, bukan hanya dia yang kaget akan pertemuan ini. sedari tadi jantungku juga berdenyut liar. Aku juga tak percaya bahwa pertemuan ini akan terjadi di tempat ini, di waktu yang sungguh tak terduga seperti ini. Meski kaget, sesungguhnya aku sangat senang dipertemukan seperti ini. Matanya berkaca-kaca, bahagia karena telah bertemu denganku.
Tanpa benar-benar bisa kuduga dia bangkit dari duduknya dan langsung menghambur ke pelukanku.
“Syukurlah kita bisa bertemu...” Ujarnya.
Kutangkap aura kelam menguar dari tubuh Diane yang berdiri di sebelahku. Mulutnya mengerucut tanda sebal dengan kejadian ini. Tak ingin membuat keributan, aku mendorong tubuh Jane dengan halus.
“Kami tersesat.” Ujar Hyungjun di belakangku.
“Kami benci Indonesia!” Air mata Jane berubah menjadi kemarahan.
Aku tersenyum menenangkan. “lets have a seat and tell me what happened.
Setelah kami berempat duduk Jane mulai menyerocos mengenai pengalamannya berkeliling Indonesia dua minggu ini. Dimulai dengan ditipu oleh para pedagang suvenir di Bali, betapa tidak nyamannya penginapan di Lombok, harus membayar sangat mahal untuk masuk candi Borobudur hanya karena mereka “turis asing”, penerjemah yang sangat sulit dicari, makanan yang sangat mahal (lagi-lagi karena mereka turis asing), berkali-kali salah naik angkutan, hingga akhirnya terdampar di Bandung saat memutuskan untuk pulang ke Inggris lewat Jakarta.
“Oke, pertanyaan pertamaku adalah kenapa kau bisa bersama Hyungjun?” tanyaku pada Jane.
Bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah saling melempar senyuman. “Kau bisa menebak sendiri lah, Sobat.” Hyungjun nyengir tidak jelas.
“Dari pada itu, sungguh jahat kau tak memperkenalkan nona manis disebelahmu pada kami.” Tambahnya iseng.
Hi, my name is Diane. Nice to meet you.” Ucap Diane terbata-bata saat aku jelaskan maksud kalimat Hyungjun.
“Pacar Kanata ya?” Desak Hyungjun.
Diane mengangguk dengan terlalu bersemangat. Langsung dirinya merangkul lenganku dengan manja. Aku berusaha memasang muka setidak nyaman mungkin.
“Tiga hari kemarin kami juga ketemu Vanya.” Ucap Jane sambil menyendokkan eskrim ke mulutnya. “Dia juga punya pacar baru.”
Deg. Informasi langsung yang sungguh tak terduga. Entah kenapa aku sangat merasa tak nyaman mendengar hal tersebut.
“Maksudnya cowok item, tinggi itu?” Balas Hyungjun sambil mengerutkan kening. “Kayaknya mereka gak pacaran deh!”
Selesai mengucapkan itu kulihat Hyungjun meringgis kesakitan sementara Jane terlihat geram.
“Tapi mereka sangat dekat kan!?” Ancam Jane. Hyungjun mengangguk sembari meringgis karena takut dicubit pahanya lagi.
Karena tak ingin membuat suasana tak nyaman dalam hatiku terus berlanjut aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ngomong-ngomong dalam rangka apa kalian ke Indonesia?”
Kembali mereka saling melempar pandangan penuh arti.
well, sejujurnya kami hanya menghabiskan liburan musim dingin.” Ucap Jane.
“Sekolah sepi tanpa kamu, Kawan!” Cetus Hyungjun.
Sebenarnya aku juga lumayan kehilangan teman-teman multi-bangsa yang ada disana. Namun tentu saja aku tak mungkin terus memaksakan diri sekolah disana setelah apa yang terjadi hampir dua tahun silam. Sekarang aku sudah mulai terbiasa menganggap bahwa apa yang terjadi di sama hanyalah sekelebatan masa lalu yang tak seharusnya disesali dan diharapkan untuk kembali. Seperti tentang seseorang...
“Apa kalian sudah ada rencana selama di Bandung?” Celetuk Diane menggunakan bahasa Indonesia.
“Kan mereka sudah bilang mau ke Jakarta. Mereka mau kembali lagi ke Inggris.”
“Tapi kan sayang sudah jauh-jauh ke sini kalau gak keliling-keliling dulu?!” Diane mendesak.
“Gak. Mereka harus pulang. Pasti liburannya mau berakhir.”
“Kayak yang tau aja!” sisi egoisnya muncul dengan kuat/
“Jangan lupa, aku kan pernah sekolah disana!” kali ini aku tak mau menyerah. “Mereka pasti gak mau ikut kita!”
“Oh, ya? Kenapa gak tanya langsung?”
Hyungjun dan Jane mengangkat alis sebagai tanda ketidakmengertian. Meski enggan aku akhirnya menanyakan pada mereka apakah mau ikut dengan kami menghadiri kegiatan peresmian pusat konservasi alam di kawasan Ciwidey. Mereka mengangguk dengan sangat antusias, merasa lega telah bertemu denganku. Aku juga lega bertemu dengan mereka. Itu artinya aku memiliki alasan untuk tak ditempeli Diane setiap detik.
Sepanjang perjalanan selama lebih dari satu jam kami bertiga habiskan dengan bernostalgia tentang masa-masa yang sudah lewat. Sungguh menyenangkan berbagi cerita dengan orang-orang seperti mereka. Untuk sesaat kekosongan hati yang kurasakan sejak pulang ke Bandung terobati.
Bukan berarti aku tak bisa menikmati momen-momen kampung halaman, bertemu dan menjalin pertemanan baru di SMA, berbagi pengalaman dengan putera-puteri terbaik bangsa, meraih pendidikan di negeri sendiri. Tapi sejujurnya selalu saja hal-hal tersebut terasa kurang. Seakan aku telah kehilangan sesuatu yang sangat penting.
Kawah Putih. Terletak kira-kira 70 kilometer dari pusat kota Bandung. Salah satu destinasi wisata yang sangat sayang untuk dilewatkan jika berkunjung ke Bandung. Kawah Putih merupakan salah satu kawah gunung berapi yang masih aktif. Tempat ini memiliki hamparan belerang putih yang tersebar diseantero kawasan. Menjadikannya bagaikan pantai dengan kabut-kabut uap yang menguar setiap waktu. Batang-batang pohon tegak berdiri walau hanya memiliki sedikit daun. Aku pikir Kawah Putih merupakan sebuah negeri dongeng.
Demi menjaga eksotisme Kawah Putih, Ayahnya Diane menanamkan modal yang sangat besar untuk membangun sebuah pusat konservasi hewan dan tumbuhan khas daerah tersebut. Kegiatan kali ini adalah peresmian semacam gedung peragaan. Di dalamnya terdapat sebuah bioskop tiga dimensi tempat para pengunjung bisa berkelana keliling Kawah Putih dari masa ke masa secara virtual.
Ide yang sangat menarik dan sangat mulia, pikirku.
“Semakin tinggi keadaan seseorang sudah selayaknya semakin menghargai tempat asal kita dan tempat terakhir kita dalam kehidupan fana ini. Bumi.” Ujar Pak Wahyu ketika aku bertanya alasannya membangun tempat tersebut.
 “Kudengar Angga suka sains? Sepertinya nanti Bapak mandatkan saja pada Angga soal pengelolaan kawasan ini.” Tambah beliau. “Itung-itung berbakti sama mertua.” Ujarnya ditambahi dengan kekehan jahil.
Perjodohan itu lagi. Aku sudah mulai terbiasa mendengarnya dari semua orang. Namun aku belum –takkan pernah- terbiasa untuk menyetujuinya. Andai saja mereka tahu bahwa yang kuinginkan hanyalah menikmati waktu untukku sendiri tanpa digerecoki oleh pikiran-pikiran lain yang sebenarnya tak kuinginkan.
Pidato-pidato panjang dari orang-orang yang merasa dirinya memiliki andil besar dalam pendirian pusat konservasi ini masih bergaung dari panggung di kejauhan. Aku memilih untuk menyendiri di sebuah bukit yang terpencil. Menjauhi Diane yang terpaksa harus selalu berada di sebelah ayah dan ibunya. Menjauhi Jane dan Hyungjun yang berfoto heboh di sekitaran Kawah Putih. Menjauhi diriku sendiri. Menjauhi kenangan yang tiba-tiba berkelebat.
“Apa kau percaya bahwa Tongkat Sihir itu benar-benar ada?” Tanya Vanya saat kami duduk di salah satu bangku King Cross. Kami sedang memandangi sebuah tembok berplakat tulisan “platform 9 ¾”
“Apa kamu percaya?” aku balas bertanya.
“Kenapa tidak?” Jawabnya mantap.
“Kalau memang ada, akan kau gunakan untuk apa?”
Vanya berpikir serius untuk beberapa lama. Keningnya berkerut. Matahari membiaskan wajahnya. Sosok gadis yang duduk di sebelahku ini entah kenapa terlihat sangat indah saat itu.
“Aku akan membuat kebahagiaan!” Ujarnya diiringi tawa manis.
Giliran aku yang mengerutkan kening. “Bahagia? Caranya?”
“Inti tongkatnya adalah ekor burung merak, bahannya adalah kayu Akasia, panjangnya harus tepat 32,23 cm.” Dia mulai berceloteh. Rona kebahagiaan tergurat di wajahnya. “Dan warnanya harus merah muda!”
Kami tertawa bersama di sebuah stasiun asing yang sangat jauh dari rumah. Namun kami tak merasa asing. Karena kami bersama.
Dulu...
“Minggu kemarin kami bertemu dengan Vanya.” Tanpa kusadari Hyungjun sudah duduk di sebelahku.
“Kalian kan tadi udah cerita.” Jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari kolam belerang yang menggelegak di kejauhan.
“Lalu?” Tambahnya.
“Lalu apa?”
“Kau tak ingin mendengar cerita lengkapnya?”
“Tidak.” Jawabku singkat. Sesungguhnya aku ingin sekali mendengar sepotong pengalaman mereka bertemu dengan Vanya.
“Ya sudah kalau kau memang tak ingin mendengarnya.”
Kami terdiam sama seperti tahun-tahun yang aku habiskan bersama Hyungjun di negeri yang teramat jauh. Selain sebagai teman sekamar, Hyungjun merupakan sahabat yang sangat nyaman untuk berbagi cerita dan kegelisahan hidup. Sudah terlampau banyak tema yang kami bahas mulai dari yang ringan seperti cuaca, hingga yang tak memilik ujung dan pangkal seperti asal dan tujuan manusia hidup di dunia.
Hyungjun selalu mengerti jika aku sedang ingin menikmati ketiadaan kata. Seringkali kami hanya duduk bersebelahan. Memandangi satu titik di kejauhan. Tanpa kata sama sekali. kadang hingga berjam-jam lamanya.
“Kabarmu sendiri bagaimana?” Tanyanya. “Kulihat kau sedang dibayang-bayangi oleh gadis manja itu.”
Aku terkekeh. Senang atas pengamatannya yang cepat dan tepat. “Seperti yang kau lihat sendiri, aku hanya mencoba menjalani kehidupan.” Kerikil terbang dari tanganku menuju kolam.
“Kehidupan memang harus terus berjalan.” Dia melakukan hal yang sama, namun dengan jarak lemparan yang lebih jauh. “Tapi yang kulihat kau sedang lari dari sesuatu.”
“Ini soal Vanya lagi?” Tanyaku defensif.
“Kau tahu ini tentang apa.” Jawabnya kalem.
Hyungjun mengeluarkan secarik kertas dari tas kecil yang menggantung di pinggangnya.
“Kau tentunya mengenalku jauh lebih baik dari ini.” Ujarnya sambil menyerahkan kertas biru yang terlipat. “Soal kami yang tersesat di Bandung ini setengahnya adalah sebuah kebohongan. Sejujurnya kami – aku lebih tepatnya – memang sengaja mencarimu.”
Kubuka kertas tersebut. Kubaca perlahan. Sebuah gambar dan rangkaian kata menyulam makna disana. Hatiku mencelos bagai terjatuh dari gedung dua belas lantai kubaca berulang-ulang, berharap isinya akan berubah. Namun ternyata tulisan ramping rapi itu takkan pernah berubah maknanya. Hyungjun menatapku lekat.
“Kutemukan kertas itu di tempat sampah depan kamar Vanya dua tahun silam. Sepertinya dia tak punya keberanian untuk mewujudkannya.”
Aku membaca huruf demi huruf hasil goresan tangan Vanya tersebut. Sukar memercayai bahwa Vanya benar-benar menulisnya. Untukku!
“Aku tahu kau tak pernah melakukan kontak lagi dengannnya. Tapi tak kusangka keadaannya akan serumit ini.”
“Bagian mananya yang rumit?” Ujarku berpura-pura ini bukan hal yang penting.
“Kau tahu maksudku. Vanya mencintaimu. Kau yang berpura-pura tak menyadarinya dan memilih untuk lari dari perasaan yang terlanjur tumbuh di hati Vanya. Namun aku tahu pasti bahwa sesungguhnya kau kehilangan Vanya bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seseorang yang lain.”
Aku diam tak menanggapi. Hyungjun melanjutkan. “Aku tahu pasti bahwa perasaan Vanya padamu masih ada. Namun aku juga berani berkata bahwa hal tersebut perlahan namun pasti sedang memudar. Vanya mulai bisa mengiklaskanmu.”
Dia diam kembali. Sengaja memberi waktu agar kata-katanya bisa meresap dalam sanubariku.
“Namun yang jadi pertanyaan adalah, “ lanjutnya. “Apa kau bisa merelakan Vanya bersam orang lain?”
Aku membaca kembali surat dari Vanya. Kertas yang kuduga sobekan sebuah buku harian memberi wadah bagi sebuah gambar loncong dengan dekorasi indah. Sebuah tongkat sihir impian Vanya. Dia menuliskans dengan detail tiap elemen-elemennya. Harus kuakui bahwa daya imajinasi dan kemampuannya mendeskripsikanny dalam narasi serta gambar sangatlah luar biasa.
“Bagaimana?” Desak Hyungjun.
“Sepertinya memang sudah saatnya aku menemui Vanya di Jogja dan mengatakan sebuah kejujuran.”
Hyungjun tersenyum. Aku tak tahu harus merasakan apa.
“Sihir pertama yang ingin aku daraskan menggunakan Tongkat Kebahagiaan ini adalah agar kita bisa selalu bersama hingga ajal memisahkan. Karena itulah kebahagiaan terbesarku. Semoga itu pula kebahagiaan terbesarmu.
Kulipat kembali kertas tersebut. Kusimpan baik-baik di saku kemeja.
Saatnya bagiku untuk membuat Tongkat Sihir Merah Jambu!