Tentang Kami

Dipertemukan secara tak sengaja pada penghujung tahun 2011. memiliki minat yang sama. ketertarikan yang sama. mimpi yang sama.sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat karya bersama. KAMI para Manusia Abadi

Rabu, 30 Januari 2013

TSMJ #13 (by: Vanya)


Dunia yang Tak Sama

Aku tahu, puluhan pasang mata yang ada di depan gerbang Benteng Vredeberg ini sedang melihat sebuah adegan di mana seorang remaja putri sedang menangis di pelukan seorang remaja putra. Aku yakin, di antara pemilik puluhan pasang mata itu ada yang berusaha mencari keberadaan kamera karena mungkin mengira adegan itu adalah salah satu adegan di film. Namun sayangnya, orang yang berpikiran seperti itu akan kecewa. Karena pada kenyataannya adegan itu bukanlah salah satu adegan di film ataupun sinetron. Ya, adegan itu nyata adanya. Dan di adegan itu, akulah si remaja putri, dan Natalah si remaja putra itu.
Siang tadi, setelah aku curhat panjang lebar kepada Arnest, akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Nata untuk menemuiku di tempat ini. untunglah Nata menitipkan nomor teleponnya kepada Uti dan Akung, jadi aku bisa menghubungi cowok yang ada di masa laluku itu. Entah pemikiran dari mana sampai pada akhirnya aku  mau menemui Nata yang selama beberapa hari ini menghabiskan beberapa jamnya di Jogja ini untuk duduk di kursi tamu Uti dan Akung. Hanya untuk menungguku kalau-kalau aku berubah pikiran untuk mau menemuinya. Tetapi pemikiranku tidak berubah—sampai hari ini, akhirnya aku luluh dengan sedikit paksaan Arnest untuk menemui Nata. Dan di sinilah aku, memeluk Nata di depan gerbang Benteng Vredeberg sambil menenggelamkan wajahku di bahu Nata.
Kamu jahat!” Ucapku lirih.
Kurasakan badan Nata berangsur-angsur mengendur dari ketegangannya. Lalu aku merasakan sentuhan tangan Nata di kepalaku yang berusaha meredakan getaran di punggungku. Aku mulai merasakan kehangatan yang hampir dua tahun ini tak menjalariku. Kehangatan yang hampir saja aku lupakan bagaimana sensasinya. Kehangatan yang kupikir tak akan pernah kudapatkan lagi dari sosok yang membelai rambutku dengan lembut ini. Rasanya aku ingin lebih lama seperti ini. Lebih lama lagi sampai aku yakin sosok itu tak akan pernah pergi lagi. Tidak untuk sekali lagi.
“Aku nggak pernah minta kamu pergi,” kataku setelah berhasil meredakan tangisku dan melepaskan pelukan itu.
I know,”
“Kamu yang minta aku pergi, Nat,”
I’m sorry,” kedua bola mata Nata menatapku lekat-lekat. Sampai-sampai, menangkap ketulusan di matanya bukanlah pekerjaan yang berat.
            Hening sesaat. Kedua pasang mataku dan mata Natalah yang saling berbicara. Saling melepas rindu yang selama ini tak terpuaskan. Lewat mata yang berbicara itu, diam-diam kami saling menebar kelegaan yang hampir dua tahun ini tak pernah hinggap di hati. membiarkan mataku melepas dahaga untuk menatap Nata, dalam diam. Dalam keheningan.
            “Hmm…,” aku berdeham pelan, memecah keheningan di antara kami berdua. Dan sepertinya, rasa canggung pun mulai tercipta. “Jadi, kamu mau masuk atau nggak?” tanyaku sambil memberi isyarat menuju gerbang masuk Benteng Vredeberg.
            “Iya,” jawab Nata singkat.
            Kami berdua berjalan menuju pintu gerbang, di mana dua orang pria berkumis berdiri di salah satu sisi gerbang. dua orang pria itu memberikan tiket lalu Nata mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar dua tiket masuk itu. akhirnya, kami masuk ke dalam benteng dan berjalan dengan diam. Aura canggung ini lama kelamaan terasa mengerikan. Mungkin waktu nyaris dua tahun itu benar-benar telah turut serta membangun dinding pemisah antara kami berdua. Atau mungkin beginilah rasanya saat bertemu kembali dengan orang yang lama menghilang dari kehidupanku.
            “Hampir dua tahun,” Nata memulai menepis rasa canggung itu. Lalu ia mengajakku duduk di tempat duduk yang tersedia di dalam benteng itu.
            “Iya,” aku memandang sekeliling benteng yang tidak terlalu ramai ini. Masa liburan memang sudah berlalu. “Kemana aja kamu selama itu, Nat?” tanyaku seraya menoleh ke arah Nata yang duduk tepat di sebelah kiriku.
            “Banyak yang udah aku lewati. Cerita yang panjang,”
            “Tapi aku mau denger,”aku sedikit memaksa.
            Kemudian Nata mulai bercerita alasannya kembali ke Indonesia waktu itu. tentang ayahnya yang meninggal, tentang bos ayahnya, dan ketidakinginan Nata untuk menyakiti perasaan ibunya. Nata menceritakan semua itu dengan pelan namun sarat emosi. Hatiku bergetar mendengar cerita laki-laki yang duduk di sampingku ini. Sekarang, aku benar-benar memaklumi sikap Nata waktu itu yang bisa di katakana tidak sengaja berbuat kasar kepadaku. Mungkin jika aku ada di posisinya, aku bisa melakukan hal yang sama. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah, tetapi setidaknya aku pernah merasakan bagaimana kehilangan orang yang aku sayangi: Nata. Dan itu semakin membuatku memahami perasaan Nata.
            “Aku nggak pernah tahu itu. Maaf,” aku menyentuh tangan Nata dan meremas tangannya pelan untuk memberinya sedikit kekuatan. “Harusnya aku nggak marah sama kamu, Nat,”
            “Aku yang salah karena nggak cerita ini dari awal ke kamu, Nya. Sorry,” kini, Nata yang balik menggenggam tanganku. Entah mengapa sentuhan tangan Nata berefek aneh pada tubuhku. Rasanya seperti ada benda berat yang jatuh ke perutku.
            “Udahlah,” aku tersenyum. Berharap senyum itu meredakan rasa aneh di perutku ini. “Yang penting sekarang kita ada di sini,”
            “Yeah. Kamu bener,”
            Hening kembali.
            “Oh iya, kenapa kamu nggak pake jepit rambut kupu-kupu yang dulu lagi? Apa karena rambutmu udah panjang terus kamu nggak mau pake jepit itu?” tanya Nata, yang lagi-lagi berhasil memecah keheningan.
            Spontan, aku menyentuh rambutku. “Nggaklah. Bosen kali pake jepit itu melulu. Cewek kan emang selalu ganti style. Nggak kayak kamu yang dari dulu rambutnya acak-acakkan,” aku tertawa pelan sambil berusaha meraih kepala Nata untuk merapikan rambut berantakkan khas Nata itu.
            Nata berusaha menghindari tanganku dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya yang bebas mencubit hidungku keras-keras. “Oooh! My lovely nose!” pekikku. Lalu tiba-tiba, aku merasa seperti de javu. Ya, laki-laki ini memang pernah mencubit hidungku di tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda. Tetapi, bukankah sekarang aku sudah bersama Nata?
            “Hahaha, hidungmu merah!” Nata mulai tertawa keras dan aku menggosok-gosok hidungku sambil melihat bayangan wajahku di kaca kecil yang setiap hari aku bawa ke sekolah.
            “Aku tahu! Sakit tauk! Pokoknya kalau sampe hidungku nggak bisa kayak semula, kamu harus bayarin operasi plastic buat hidungku!” kataku melebih-lebihkan.
            Nata justru kembali tertawa, “Nggak bakalan se-over itu. tuh udah nggak merah,”
            “Tapi tetep aja sakit, Nata! Coba kamu sini!” tanganku mulai meraih-raih lagi. Kali ini hidung Nata yang mancung itulah sasaranku.
            Lagi-lagi Nata dapat menangkis kedua tanganku dengan mudah dengan tangan kanannya. Aku mencoba lagi, dan Nata menepis kembali. Ia tertawa sambil terus menepis kedua tanganku yang berniat untuk membalas dendam. Dengan gerakkan yang cekatan, Nata mencengkeram kedua pergelangan tanganku erat-erat lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku membeku saking kagetnya. Pelukan itu membuatku lupa bagaimana cara berkedip dan bernapas. Bahkan lidahku tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Jantungku yang tersimpan di balik rongga dada ini mulai meronta-ronta, memompa darah lebih cepat dari beberapa detik yang lalu ketika aku belum di pelukannya.
            Aku mulai merasakan hembusan napas Nata di telinga kananku, “Kamu cantik dengan rambut panjangmu,”
            Entah mengapa. Wajahku terasa panas. Seperti berada tepat di depan api unggun yang panas. Dalam hati, aku pun berdoa agar jantungku tidak meledak saking kerasnya ia memompa darah. Dan sepertinya doaku terkabul, karena tiga detik kemudian, Nata melepaskan pelukannya. Kemudian aku menghembuskan napas yang dari tadi kutahan. Tetapi rasa panas di wajahku tak kunjung menghilang.
            Thanks,” kataku tulus. “Oh ya, Nat, bukannya harusnya hari ini kamu udah masuk sekolah ya?”
            Nata tersenyum ke arahku lalu menjawab pertanyaanku, “Iya. Aku seharusnya hari ini udah balik ke Bandung. Tapi kamu baru mau ngomong sama aku hari ini, Nona Vanya,”
            “Harusnya mau nemuin kamu sebulan lagi biar kamu nggak sekolah sebulan,” aku tertawa jahil.
            Where is your lovely nose, Miss Vanya?” pertanyaan Nata membuatku semakin tertawa—sambil memegangi hidungku, tentu saja.
            “Vanya?” panggil Nata setelah aku meredakan tawaku.
            “Ya?”
            “Ada sesuatu yang mau aku kasihin ke kamu,”
            “Apa?”
            “Aku lupa membawanya. Nanti mau ke tempat penginapanku? Bendanya ada di sana,”
            Aku mengernyitkan dahi. “Emang apa sih bendanya?” tanyaku penasaran.
            “Jadi, kapan kamu balik ke Bandung, Nata?”
            “Nata?! Nata siapa?!” kata sebuah suara yang sedikit melengking. Aku dan Nata segera menoleh ke arah pemilik suara itu yang ternyata adalah seorang perempuan dengan rambut sebahu yang wajahnya tampak merah karena marah.
            Perempuan itu mendekati Nata lalu Nata berdiri. Aku juga ikut berdiri.
            “Sekarang aku tahu kenapa kamu nggak pulang-pulang!” kata si perempuan itu ketus. “Gara-gara dia!” perempuan itu menudingku dengan jari telunjukknya. Aku sedikit terkejut. Siapa perempuan yang datang sambil marah-marah tak keruan seperti ini?
            “Kamu siapa sih?!” perempuan itu mulai mendekatiku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Angga itu pacar aku! Kamu nggak berhak deketin dia! Lagi pula—ooh ya! Aku inget!”
            Perempuan yang ada di depanku ini mundur selangkah lalu menatap Nata. “Dia yang ada di foto itu! Iya kan, Angga?!”
            Nata, yang di panggil Angga oleh perempuan itu mengangguk pelan. Perempuan yang lebih pendek beberapa centi dari aku ini nampak sangat marah. Wajahnya yang merah semakin merah. Aku tahu, kedua rahang perempuan ini bergetar seolah-olah bisa menelan siapa saja yang ada di tempat ini. Aku sendiri mulai merasakan kemarahan yang aku sendiri tak mengerti.
            “Oh jadi kamu yang namanya Vanya?!”
            “Kenapa?!” aku ikut-ikutan ketus.
            Perempuan itu menatapku seperti ingin membunuhku. “KAMU TAHU NGGAK?! DIA—KANATA ANGGARA WIGUNA UDAH TUNANGAN SAMA AKU! JADI KAMU JANGAN DEKETIN DIA LAGI! KAMU CUMA TEMAN LAMA YANG HARUSNYA DI BUANG!” lalu perempuan itu mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tamparan panas mendarat di pipi kiriku.
            Aku menatap perempuan itu penuh amarah. Hampir saja aku balas memukulnya kalau saja Nata tidak menahan tanganku. Tunggu! Kenapa Nata menahan tanganku? kenapa ia tidak menahan tangan perempuan sialan ini tadi?
            Nata segera mencengkeran kedua tangan perempuan yang barusan menamparku itu lalu membawa perempuan itu agak jauh dariku. Aku terdiam di tempat, berusaha meredakan kemarahan yang tadi merasukiku. Aku tak mau melihat Nata dan perempuan itu. aku tak mau kemarahan kembali mendatangiku.
            “Kalau gitu, aku mau pulang! Terserah kamu mau pulang atau nggak!” lalu aku mendengar kata-kata perempuan itu.
            “Diane! Diane!” panggil Nata, sedangkan sosok yang dipanggil tetap berlari tanpa menoleh.
            Nata berjalan mendekatiku dengan wajah yang lelah. Ia menatapku lekat lalu menyentuh pipi kiriku yang masih terasa panas, tetapi aku segera menepis tangan Nata.
            “Jadi… dia pacarmu?” tanyaku.
            Nata mengangguk singkat. Lalu aku terduduk di kursi yang kami duduki tadi.
            “Kamu nggak pa-pa?” tanya Nata setelah mengikutiku duduk.
            “Apa kalian sudah tunangan?” alih-alih menjawab pertanyaan Nata, aku justru balik bertanya.
            Kali ini Nata membisu dengan mata yang sudah terlanjur menatap mataku. Ia tak kunjung menjawab sampai aku menyimpulkan kediaman Nata itu sebagai kata ‘iya’.
            Tanpa banyak pembicaraan lagi, aku segera meraih tasku dan berdiri. Ketika kakiku baru saja akan melangkankan kakiku, tangan Nata meraih tangan kiriku. Dan Nata berdiri.
            “Nata, PACAR kamu itu benar! Kamu harusnya nggak di sini. Harusnya kita nggak pernah ketemu! DIA benar! Harusnya kamu nggak usah ke sini. Kita punya dunia yang berbeda dari dulu! Harusnya aku emang nggak berteman sama kamu saat di London! Mungkin semuanya nggak akan seperti ini!” aku mengatakan itu penuh emosi. Kemarahanku yang berusaha aku redakan, mulai meledak. Aku merasakan air mata kemarahan mulai menggenangi kedua mataku.
            “Kenapa?” tanya Nata dingin.
            “Karena harusnya kita nggak berteman! Kata-katamu waktu di London dulu emang bener! Harusnya aku nggak pernah ganggu kamu! Kita emang nggak ditakdirkan selalu bersama, Nat! Kamu juga tahu itu!”
            “Vanya, nggak kayak gitu…”
            “Jadi, biar aku perjelas! Lebih baik kamu kembali ke Bandung, minta maaf sama PACARmu itu dan JANGAN TEMUI AKU LAGI! DUNIA KITA SUDAH BERUBAH! Tenang aja Nat, aku nggak akan mengganggumu lagi, seperti permintaanmu saat pertama kali kita bertemu.” Air mataku mulai jatuh dengan deras di kedua pipiku. Namun aku tak berniat untuk mengusapnya sama sekali.
            Aku melepaskan cengkeraman tangan Nata lalu berjalan menuju gerbang.
            “Jadi kita nggak akan ketemu lagi?” tanya Nata dingin tetapi sarat emosi.
            Aku berhenti berjalan. “Nggak. Mulai hari ini nggak ada kata kita. Yang ada hanya Nata dan Vanya,” jawabku tanpa menoleh.
            Nata kembali meraih tanganku dengan lembut. Ia menyentuh bahuku lalu membalikkan badanku. Nata menatapku dalam. Mata milik Nata itu seperti sebilah belati yang menusuk-nusuk dadaku. Berkali-kali dan menyisakan rasa perih yang tak terkira. Air mataku kembali menetes karena rasa perih itu. Lalu aku menutup kedua mataku. Berharap dengan aku menutup mataku, rasa perih itu akan berkurang. Akhirnya kembali aku buka mataku karena rasa perih itu tak kunjung surut.
            Kemudian Nata menarik tubuhku dan memelukku erat. “terakhir,” bisiknya di telingaku. “You know? You’re the best friend I’ve ever know. And…” aku merasakan detakan jantungku dan Nata sama-sama menggila. Dan air mataku lebih deras mengalir membasahi pipi juga baju Nata.
            I love you,” lanjut Nata. Satu kalimat itu membuatku semakin tersedu. Aku berusaha meredakan tangisanku lalu melepas pelukan hangat Nata untuk yang terakhir kalinya itu.
            Bye, Vanya Diartha Nirwana,” ucap Nata.
            Bye… Kanata Anggara Wiguna,” aku tak berani menatap mata Nata. Lalu keheningan yang menyesakkan tercipta di antara kami. Aku pun memutuskan untuk berbalik dan pergi meninggalkan Nata. Dan kali ini, tidak ada tangan Nata yang menahanku. Aku terus berjalan dan berjalan. Berharap aku bisa berbalik dan membuat semuanya lebih baik. Namun ini yang terbaik. Nata bukan tercipta untuk selalu ada di sampingku. Tuhan memang HANYA memberikan waktu dua tahun bagiku dan Nata untuk saling berbagi. Dan setelah itu, semua tinggalah omong kosong. Ya, hanya dua tahun. Hanya dua tahun yang sesingkat kedipan mata. Lalu tak ada lagi kesempatan juga waktu.
            Ada awal ada akhir. Ada pertemuan ada perpisahan.
            Beginilah pada akhirnya. Aku memang tak seharusnya masuk dalam kehidupan Nata. Dari awal pertemuan Nata memintaku untuk menjauh darinya. Aku rasa itu pertanda bahwa aku dan Nata memang tak ditakdirkan untuk bahkan sekedar berteman. Kami berbeda. Kami berdiri di garis berbeda walaupun sejajar. Terlihat bersampingan, tetapi sebenarnya garis yang kita lalui tak pernah bertemu di titik manapun. Tak ada ujungnya.
            Aku tahu, kali ini perpisahanku dengan Nata adalah benar-benar sebuah perpisahan. Setelah hari ini, mungkin Aku dan Nata akan menjadi orang yang lain. Atau menjadi seperti yang dulu ketika aku dan Nata belum saling mengenal.  Memang begitulah pada kenyataannya. Aku tidak untuk Nata, dan begitu juga Nata.
            Mungkin, perpisahanku dengan Nata sewaktu di London dulu bukanlah perpisahan yang sebenarnya. Hanya sebuah perpisahan yang tertunda. Barulah hari ini, semua jelas. Hari ini semuanya berakhir. Mengakhiri yang seharusnya tak pernah dimulai.
###
            Aku terbangun dari tidurku dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Mimpi buruk itu lagi. Akhir-akhir ini mimpi buruk sering menghantuiku. Setelah perpisahanku dengan Nata hari itu, duniaku terasa dua kali lebih gelap. Di tambah lagi dengan mimpi-mimpi buruk sialan itu. Rasanya aku ingin berteriak tapi aku tak bisa. Tenggorokkanku seperti menelan teriakanku itu sebelum sempat menggetarkan partike-partikel udara. Sungguh buruk.
            Aku menghapus peluh di pelipis dan leherku kemudian melirik jam. 05.30. Aku segera bangun dan menyiapkan segala sesuatunya untuk pergi ke sekolah. Uti baru saja meletakkan segelas susu coklat di meja makan ketika aku selesai mengenakan seragamku. Uti tersenyum kepadaku, dan aku membalas senyuman itu seceria mungkin. Lalu kami bertiga mulai sarapan. Di meja makan ini, kami membicarakan cuaca di luar yang cerah dan tumbuhan Uti yang sudah berbunga di halaman depan. Aku berusaha tampak seceria mungkin agar Uti dan Akung tak mengkhawatirkanku. Dan aku rasa aku berhasil.
            Aka datang tepat waktu. Ia datang saat susu coklat buatan uti seudah kutenggak habis. Aku dan Aka berpamitan pada Uti dan Akung lalu kami berangkat ke sekolah. Aku menatap langit biru tak berawan yang ada di atasku. Hari ini memang benar-benar cerah.
            “Yuk!” ajak Aka.
            Aku menoleh ke arah Aka lalu tersenyum. Ini memang duniaku. Kataku dalam hati.

Minggu, 13 Januari 2013

TSMJ #12 (By Kanata)



Makna Sebuah Pertemuan

Aku tak tahu mana yang lebih bodoh; fakta bahwa aku sedang duduk di kursi rotan di ruang tamu sebuah rumah yang bergaya arsitektur abad ke-17, disuguhi penganan seperti bola-bola berwarna coklat dan secangkir besar teh hangat,  dan ditemani kesunyian karena pria tua yang kuduga kakeknya Vanya memilih menyibukkan diri dengan menghisap tembakau dari pipa kunonya sambil melihat jendela dibanding dengan mengajakku bicara; atau fakta lain bahwa ini hari ketiga aku melakukan ritual ini. Dan Vanya masih menolak menemuiku.
            “Katanya Vanya masih belum siap buat ketemu.” Ucap wanita tua yang mengenalkan dirinya sebagai Uti Vanya. “Bukannya Uti tak mengerti perasaan Nak Nata, tapi tahu sendiri kalau gadis muda sudah merajuk susah sekali dibujuknya.”
            Sama seperti hari-hari sebelumnya, yang kulakukan hanyalah diam mendengarkan sambil memegang erat bungkusan yang belum berhasil aku serahkan langsung pada Vanya.
            “Bagaimana kabar sekolahnya?” Aku tak tahu apakah Uti sengaja atau tidak. Yang jelas setiap kali datang selalu pertanyaan-pertanyaannya diulang.
            “Baik. Sekarang saya kelas tiga. Betul.  Ujian sekitar bulan Maret. Rencananya mau ngelanjutin ke ITB. Iya, saya pernah ketemu Kak Revo disana. Nanti saya sampaikan salamnya jika ketemu lagi. Biasa aja, Vanya suka melebih-lebihkan.” Jawabku dalam hati karena aku tahu urutan pertanyaannya pastilah:
            “Sekarang kelas berapa? Oh ya? UN bulan apa? Mau lanjut kuliah kemana? Revo, kakaknya Vanya juga kuliah disana loh. Salam ya buat Revo?! Jangan nakal-nakal di kampung orang!”
            Tiga bulan berlalu sejak pertemuan tak sengajaku dengan Janet dan Hyungjun. Butuh hanpir 100 hari bagiku mengumpulkan keberanian untuk menemui Vanya seperti yang mereka anjurkan. Hari-hari yang penuh kebimbangan.
            Sejujurnya aku amat ingin menemui Vanya lagi. Namun aku juga sangat takut akan apa yang terjadi ketika pertemuan tersebut benar-benar terjadi. Seminggu yang kulakukan semenjak tiba di Jogja adalah memandangi rumah ini dari kejauhan, merasa ragu hendak melangkah atau tidak.
            Sampai akhirnya pertemuan yang cukup tak disengaja itu pun terjadi. Aku yang sedang berbelanja cemilan sebagai bekal duduk dan melamun di taman seberang rumah Vanya harus bertemu dengannnya di sana.
            Entah dorongan dari mana, alih-alih lari dan bersembunyi aku malah menampakkan diri di hadapannya. Diluar dugaan ternyata Vanya merasa jauh lebih kaget terhadap pertemuan tersebut dibanding diriku. Dia lari, terluka, dan mengurung diri di kamar.
            Tiga sore aku datang. Tiga sore pula aku hanya ditemani Akung dan Uti.
            Seakan keadaan tak bisa bertambah rumit, terdengar suara kendaraan berhenti depan rumah, dilanjutkan dengan suara pagar terbuka, kemudian suara salam. Sosok cowok tinggi berbadan atletis dengan kulit yang terlalu banyak terjemur sinar matahari muncul dari pintu ruang tamu. Senyum di bibirnya seketika berubah menjadi  kerutan di dahinya.
            “Aih, Aka pikir tidak ada tamu?!” jelas itu pernyataan basa-basi karena bagaimanapun kami sempat bertemu sekilas ketika dirinya keluar dari lorong yang kutahu mengarah ke kamar Vanya dengan tergesa-gesa seperti pencuri yang tertangkap basah.
            “Aka, kenalkan. Ini Kanata. Temen Vanya juga.” Jelas Uti.
            Kami berjabat tangan dengan sopan. Aku catat baik-baik kalimat beliau.
            “Juga.”
            Artinya posisi aku maupun Aka adalah teman Vanya. Tak lebih.
            Aka duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Kesunyian mengisi udara selama beberapa menit.
            Akung berdiri sambil berdehem pada Uti. Mereka berpandangan. Akung mengangguk. Uti tersenyum paham.
            “Sepertinya Uti harus meninggalkan kalian mengobrol berdua. Katanya Akung pengen dipijit sama Uti.” Ucapnya sambil tersenyum yang tak bisa kutangkap maknanya. “Maklum sudah tua. Jadi perlu banyak perawatan.”
            “Kalian ngobrolah dengan tenang.” Ucap Akung dengan suaranya yang khas.
            Kesunyian kembali tercipta. Aku menunggu. Dia juga menunggu.
            “Saya dengar Kanata DULU dekat dengan Vanya.”
            “Saya dengar juga bahwa SEKARANG Vanya dekat dengan Chakra.” Jawabku segera.
            Cukup aneh sebetulnya menggunakan kata Saya untuk diri sendiri dan menyebutkan nama jelas dari lawan bicara.
            “Panggil Aka aja. Gua biasa dipanggil kayak gitu.” Ujarnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Aku merasa ini adalah sebuah perang batin antara kami berdua. “Bisa dibilang saat ini gua cowoknya Vanya.”
            Jika saja aku sedang meneguk air tentunya air tersebut akan menyembur keluar. Suatu pernyataan yang terlalu blak-blakkan menurutku.
            “Saya dan Vanya dulu deket karena sama-sama berasal dari Indonesia.” Aku tak ingin kalah dalam adu mental ini. Segurat warna merah muncul di tenguknya ketika aku jelas-jelas tak terprovokasi dan tetap menggunakan kata ganti Saya.
            “Tak terhitung banyaknya waktu yang kami habiskan bersama dalam dua tahun tersebut. Sangat menyenangkan.” Kali ini telingannya ikut memerah.
            “Gua juga denger sudah lebih dari dua tahun ini kalian sama sekali gak menjalin kontak.” Entah memang sudah wataknya yang angkuh atau ini hanya sekedar metode pertahanan dirinya yang ingin melindungi Vanya, aku tak tahu pasti. Yang jelas sepertinya bukan pembicaraan ringan semacam cuaca atau sebagainya yang akan kami bahas saat ini.
            “Banyak hal yang terjadi dalam dua tahun ini.” Ucapku dengan suara setenang mungkin.
            “Oh ya? Gua pengen denger dong semuanya!”
Ya Tuhan, aku sudah terlalu lelah untuk menghadapi ini. Seluruh daya upayaku sudah aku pakai untuk melakukan perjalanan ke Jogja. Apakah masih harus ditambahkan dengan menghadapi “pacar” Vanya yang disebut Uti sebagai “teman”, sama sepertiku?
“Saya merasa tak berkewajiban untuk melakukannya.” Melihat situasi yang ada, aku memilih untuk menghindari konflik. “Saya pamit. Besok kesini lagi.”
Tanpa menunggu persetujuannya aku bangkit dan berjalan pulang ke penginapan.
Aku berjanji akan terus datang hingga Vanya mau menemuiku. Aku tak mungkin pulang ke Bandung dengan sebuah cerita yang menggantung.
#
Malam telah amat larut. Hanya suara derum motor yang sesekali melintas yang menjadi pengisi kesunyian. Mataku sangat sulit untuk diajak terpejam. Pikiranku melantur kemana-mana sementara kedua tangaku memainkan sebuah purwarupa dari tongkat sihir merah jambu yang telah digambar Vanya.
Jika Vanya dapat membanggakan kemampuannya dalam menggambar, maka aku bisa dikatakan ahli dalam membuat prakarya. Gambar dua dimensi Vanya aku wujudkan dalam bentuk tiga dimensi. Kayu Akasia yang aku ukir secara hati-hati dengan tingkat presisi yang tak kalah teliti. Panjangnya berkali-kali aku ukur untuk memastikan agar tepat seperti yang diminta olehnya. Karena pada dasarnya kayu akasia berwarna kecoklatan, maka aku terpaksa merendamnya selama berhari-hari dalam cat kayu berwarna merah jambu.
Kupikir karya seniku cukup sempurna kecuali satu pertanyaan besar, bagaimana caranya Mr. Olivander memasukan inti tongkat ke dalam kayunya? Apakah dibutuhkan sebuah sihir sungguhan agar nadi naga dan sebagainya bisa berada di tengah tongkat tanpa merusak kayunya?
Menyadari aku hanya seorang Muggle (begitu sang Penulis memberi istilah bagi rakyat non-sihir) maka aku menggunakan metode yang paling masuk akal untuk memasukan bulu burung merak ke dalam tongkat buatanku: Melubanginya.
Butuh 5 hari untuk membuat lubang mungil yang sejajar dengan kayu yang aku ukir. Sebuah pekerjaan yang sangat melelehkan dan membutuhkan ketelitian tinggi karena penyimpangan satu mili saja bisa berakibat lubangnya keburu keluar sebelum mencapai ujung.
Pekerjaan yang tak kalah membutuhkan kesabaran adalah memasukan bulu burung tersebut ke dalam. Jika aku terburu-buru melakukannya akan mengakibatkan bulu tersebut rontok dan kehilangan sisi magisnya.
Namun semua usaha yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh tentunya akan membuahkan hasil yang maksimal. Sejujurnya aku sangat puas dengan hasil karyaku ini. Semoga Vanya bisa merasakan aura kesungguhan menguar dari tongkat impiannya ini.
Namun yang jadi pertanyaan adalah jika dirinya tak mau menemuiku, bagaimana caranya Vanya bisa merasakan momen magisnya?
Meski tak benar-benar menginginkannya, aku tertidur dengan pertanyaan yang saling menumpuk.
#
Aku bangun dengan perasaan sungguh tak karuan. Rencana awalnya adalah pada hari ini aku sudah berada di Bandung karena libur semesteran sudah berakhir. Sebelum bangkit dari tempat tidur aku berkali-kali merapal kalimat yang sama.
“Jika hari ini masih gagal, aku pulang dan merelakan semuanya.”
Dengan waktu yang cukup lama berada di Jogja, sebagian besar objek wisata yang sekiranya tak membutuhkan biaya besar telah aku kunjungi. Yang artinya Borobudur dan Prambanan tak jadi aku kunjungi karena kudengar tiket masuknya saja 75 ribu rupiah. Sungguh biaya yang terlalu banyak buatku.
Kuputuskan untuk berada di penginapan  seharian. Menyiapkan energi untuk menghadapi sore hari sambil mengepak barang. Menyingkirkan hasrat untuk datang ke sekolah Vanya dan mengamati kegiatannya seperti stalker yang sering aku lihat di televisi.
#
Ponselku berdering dari kamar sementara aku sedang mengobrol dengan Mas Pano, penjaga penginapan, di front office. Setengah malas aku menuju kamar. Pasti dari Diane lagi. hampir setengah jam sekali dia bertanya kapan aku pulang sambil memastikan bahwa semua barang titipan dia telah aku beli.
Alih-alih nama Diane yang muncul, sederet nomor yang tak kukenal menghiasi layar ponsel.
“Halo? Nata?”
Deg!
Suara Vanya terdengar di ujung sambungan.
“Vanya?” Ucapku meski dugaanku tak mungkin keliru.
“Iya, Nat.” Balasnya datar. “Kita bisa ketemu di Benteng Vredeburg jam satu?”
“Tentu.” Jawabku spontan.
“Aku tunggu ya?!”
Klek.
Sambungan terputus.
Setelah berhasil mnegatasi kekagetan aku lalu melihat jam. 10 menit lagi menuju waktu janjian. Tanpa banyak mempersiapkan diri aku segera pergi karena bagaimanapun Benteng tersebut letaknya lumayan jauh dari penginapan.
#
Sosok berseragamnya berdiri di pintu masuk Benteng. Masih ada jarak 20 meter diantara kami. Vanya berusaha tersenyum seramah mungkin saat aku berjalan mendekat. Namun bertahun-tahun aku kenal Vanya,  jenis senyum tersebut bukanlah yang masuk kategori baik-baik saja. Ada sesuatu yang telah terjadi. Aku tahu pasti.
Saat jarak yang tercipta hanya 2 meter tiba-tiba saja Vanya berlari dan memelukku sebelum akhirnya terisak.
“Kamu jahat!” Ucapnya lirih.
Aku membelai rambutnya, menikmati aroma tubuhnya, merasakan berat badannya.
It’s just like years ago, but without hope and happiness....
Sungguh, bukan seperti ini pertemuan kami dalam bayanganku.

Senin, 24 Desember 2012

TSMJ #11 (By: Vanya)


Menemukan yang Sudah Tak Dicari

Sudah berpuluh-puluh menit aku melangkahkan kakiku ke sana ke mari dari satu toko kt toko lain yang ada di mall ini. Kalau saja Aka tidak menemaniku, ini akan menjadi jalan-jalan yang paling membosankan dan membingungkan. Bagaimana tidak? Mencari hadiah untuk ulang tahun pernikahan Akung dan Uti itu lebih membingungkan daripada memecahkan soal Logaritma dan semacamnya.
            “Udah kubilang, boneka Teddy Bear aja. Gampang kan?” usul Aka. Entah sudah berapa kali ia mengusulkan ide bodoh itu dan entah sudah berapa kali aku menolaknya.
            “Aka,” aku menatap Aka penuh rasa jengkel. “Masa iya ulang tahun pernikahan Akung dan Uti yang ke-40 mau dikasih boneka Teddy Bear?!”
            Tanpa kuduga, Aka justru membulatkan matanya. Aku tak tahu apakah ia benar-benar kaget atau hanya berpura-pura kaget. “40 tahun? Kalau gitu, jangan Teddy Bear. Itu lustrum. Harus dikasih hadiah special!” kata Aka dengan nada seorang presiden yang akan membangun perusahaan nuklir untuk negaranya. Dan sekarang aku tahu bahwa Aka hanya berpura-pura bersemangat—hanya untuk menggodaku.
            Aku memutar kedua bola mataku dan melengos pergi dan memilih untuk memasuki salah satu toko DVD yang sepi. Aku berkeliling dengan langkah pelan. membaca tulisan-tulisan yang ditempel di depan rak. Tulisan-tulisan itu menginformasikan tentang jenis music apa yang berderet di belakangnya. Ada rak yang semuanya adalah album band-band local yang beraliran pop, album boys band dan girls band yang begitu banyak seperti jamur yang tumbuh lebat di musim hujan, dan ada juga album-album milik musisi internasional yang taka sing lagi di telinga. Di rak yang terletak paling pojok bertuliskan ‘Musik Keroncong’ menarik perhatianku. Akung dan Uti sering mendengarkan music keroncong jika tak ada hal lain yang ingin mereka kerjakan. Sayangnya aku tak mengerti mana yang harus aku pilih, sedangkan tahu tentang music keroncong pun tidak. Lagi-lagi aku melengos kecewa. Lalu aku memutuskan untuk keluar.
            Saat aku berbalik, tiba-tiba saja Aka sudah berdiri di hadapanku. Membuatku sedikit terkejut. “Udah dapetin kadonya?” tanyanya.
            “Aku menghela napas pelan, “Belum,” jawabku, lalu beranjak dari toko yang penuh dengan rak berisikan DVD dan VCD itu.
            “Udahlah, kita makan dulu ya? Udah siang juga,”
            “Tapi aku belum dapetin kado buat Akung sama Uti, Ka!” kataku jengkel. Entahlah, akhir-akhir ini aku memang sensitif.
            “Iya, Vanya. Habis makan baru lanjut cari. Sampe mallnya tutup aku tetep nemenin. Tapi makan dulu, ya?” rayu Aka.
            Sejak dua minggu yang lalu, saat pensi sekolah malam itu, Aka memang lebih sabar menghadapi aku yang—harus kuakui—kadang-kadang memang kekanak-kanakkan. Entah apa yang terjadi pada Aka, yang jelas aku bersyukur kesalahpahaman malam itu dapat terselesaikan dan Aka menjadi lebih pengertian terhadapku. Sebenarnya aku merasa sedikit curiga dengan Janet yang malam itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku saat aku duduk di café sendirian untuk melepas kekesalanku pada Aka. Malam itu, aku berbicara panjang lebar bersama Janet yang ternyata datang ke Indonesia bersama HyungJun. Sampai pada akhirnya Aka datang menyusulku. Aku juga tak tahu bagaimana ia bisa tahu aku sedang di café itu. Yang jelas, malam itu, Aka juga ikut berbincang-bincang dengan Janet dan HyungJun setelah aku mengenalkan mereka padanya. Dan saat berada di tempat parkir café, sebelum kita berpisah, aku sempat mengobrol soal Nata bersama HyungJun dan Janet membicarakan sesuatu—yang entah apa itu, bersama Aka.
            “Jadi mau makan di mana?” tanyanya memudarkan lamunanku yang singkat.
            “Terserah kamu aja,” kataku pada akhirnya yang berarti menyetujui ajakan Aka untuk makan.
            Aka mengajakku di lantai paling atas dimana ada sebuah foodcourt yang selalu ramai memamerkan menunya. Aku memilih tempat duduk paling luar dan Aka memesan makanan untuknya dan untukku setelah aku tidak berhasil meyakinkan Aka bahwa aku hanya butuh segelas jus alpukat. Lalu Aka membiarkanku menunggu sejenak.
            “Kamu pesen apa?” tanyaku pada Aka yang baru saja meletakkan pantatnya di kursi.
            Spaghetti bolognaise,” jawab Aka. “dan harus habis,”tambah Aka sambil tersenyum.
            Baru saja aku hendak protes atas ucapan Aka barusan, dua piring spaghetti dan dua lemontea datang dan memenuhi meja kecil di hadapanku dan Aka. Aku menarik niatku untuk protes karena tiba-tiba saja sepiring spaghetti dengan porsi pas itu tampak sangat menggoda dimataku sekarang. Segera kuambil garpu yang disediakan dan melahap spaghetti itu dengan penuh semangat. Rasanya aku juga sudah membuang gengsiku jauh-jauh karena saat ini Aka tengah melihatku melahap spaghetti-ku dengan penuh antusias dengan ekspresi yang sepertinya-tadi-ada-yang-bilang-tidak-mau-makan. Aku tidak peduli.
            “Mau tambah spaghetti bolognaise­-nya, Nona?” goda Aka.
            “Nggak lah, Nat,”
            “Nat?” tanya Aka dengan kedua alis terangkat.
Astaga! Betapa bodohnya aku bisa mengucap nama orang itu lagi! Di depan Aka pula! Bodoh! Kata ‘Nona’ itu memang selalu berhasil memancing ingatanku tentang Nata.
“hmm… Nanti maksudku. Tadi aku belum kelar ngomong,”aku memaksakan untuk tertawa agar Aka tak curiga lagi. “Oh ya, Ka, malem itu, waktu ketemu Janet dan HyungJun kamu ngobrol apa aja sama Janet?” aku berusaha membelokkan obrolan.
“Kamu tahulah pasti. Waktu itu kan kamu duduk di sebelahku,”jawab Aka sebelum menenggak habis lemontea-nya.
“Bukan waktu di dalem café, tapi di parkiran,”
Aku sedikit menangkap ekspresi gusar di wajah Aka yang kemudian berhasil di buang oleh Aka. “Oh itu, soal Nata,”
Mataku tak bisa berkompromi dengan otakku karena saat ini kedua bola mataku seperti hendak meloncat dari lubangnya saking terkejutnya aku. “Na… Nata?” kataku masih tak percaya.
“Tapi itu nggak penting-penting amat kok, aku Cuma tanya soal Nata sedikit. Oh iya, ayo cari kado untuk Akung dan Utimu! Keburu sore, yuk!” Nata mulai berdiri dan aku pun mengikutinya. Aku tahu, Aka mengalihkan pembicaraan ini. Bahkan aku yakin Aka tahu bahwa aku berbohong soal ‘Nat’ tadi. Oh, lagi pula siapa yang percaya dengan alibi murahanku tadi?
Sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang Aka dan Janet omongkan malam itu. jika benar soal Nata, apa yang diinginkan Aka dari obrolan soal Nata itu? tetapi aku tidak mungkin bertanya secara langsung kepada Aka karena itu akan menjadi ide yang sangat buruk. Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan mulai berpikir lagi apa yang harus aku berikan kepada Akung dan Uti di ulangtahun pernikahan mereka.
“Gini aja,”lagi-lagi Aka membuyarkan lamunan singkatku. “Gimana kalau benda yang mau kamu kasih ke mereka itu adalah buatan tanganmu sendiri. Pasti lebih berkesan,” lanjut aka.
Oke, aku akui kali ini ide Aka tidak buruk. Bagus malah! Bukankan jika hadiah itu dibuat sendiri akan lebih puas dan lebih bangga ketika memberikannya kepada orang lain ketimbang membeli? Tentu saja. Tapi yang menjadi masalah kali ini adalah: apa yang harus aku buat sebagai hadiah ulangtahun pernikahan Akung dan Uti yang ke-40?
“Tapi bikin apa?” tanyaku lemas. Padahal beberapa detik yang lalu baru saja aku semangat.
“Apa aja. Mereka akan menghargai apapun pemberianmu, Vanya,” Aka tersenyum. Kalau sedang begitu dia terdengar seperti kakakku saja.
            Aku berpikir sejenak sambil memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di mall ini. Dan aku rasa satu ide telah berhenti sejenak di kepalaku dan memotivasiku untuk menggerakkan mulutku dan memberitahukan ide itu pada Aka, cowok yang penuh dengan kesabaran sekaligus pacarku ini.
            “Gimana kalau album foto?” kataku dengan cengiran lebar seolah-olah tidak ada ide yang lebih menarik dari itu.
            Aka tampak berpikir sejenak,”isinya foto apa?”
            “Isinya nanti aku kasih foto Akung sama Uti dulu waktu kakak pertamaku lahir sampe foto mereka yang sekarang. Terus nanti juga ada fotoku sama kakak-kakakku, gimana?”
            “Bagus! Nah sekarang kita cari bahannya aja dan cepet-cepet bikin. Ulangtahunnya lusa kan?”
            Aku mengangguk penuh semangat. Aku akan membuat suatu karya, sebentar lagi. Sebentar lagi.
###
“Ini ada kue bikinan Uti, dimakan lho ya,”kata Uti yang membawa sepiring kue brownis dan dua gelas sirup jeruk. Belum sampai masuk ke kamarku, aku sudah menghadang Uti di depan pintu kamarku agar tidak tahu tentang hadiah yang kubuat bersama Aka itu.
“Sini Vanya bantuin, Uti. Nah, uti bisa nyiramin tanaman lagi, hehe…”
            Uti melihat kamarku sebentar lalu tersenyum pada Aka. “Pintunya dibuka gini terus ya, ndak boleh ditutup lho. Kalian ndak ngapa-ngapain to?” tanya Uti penuh selidik.
            “Ya ampun, Uti. Vanya anak baik kok Uti, Vanya sama Aka nggak ngapa-ngapain,” kataku meyakinkan.
            “Ya sudah, Uti ke depan dulu ya. Dimakan itu kuenya,” Uti tersenyum pada Aka lagi dan berjalan menuju halaman depan untuk membantu Akung menyirami tanaman.
            Aku kembali duduk di sebelah Aka dan meletakkan makanan dan minuman di atas meja belajarku. Lalu aku kembali membantu membuat album foto dengan menempel foto-foto yang ada di album buatanku dan Aka.
            “Yaaah, selotipnya habis! Bentar ya aku cari dulu,” aku membuka semua laciku tetapi tidak ada selotip maupun lem di sana.
            “Nggak ada, Ka. Aku pergi dulu ya, mau beli selotip. Oh sama keju deh, brownisnya ga menarik banget kalo nggak ada kejunya. Hehe…”
            “Mau aku anterin?” tawar Aka penuh sayang.
            “Nggak usah,” aku tersenyum lalu pergi ke sebuah supermarket yang hanya beberapa ratus meter dari rumah, salah satu keuntunganku tinggal di sini.
            Aku memasuki supermarket itu dan langsung menuju rak tempat keju cedar biasanya ditata. Aku mengambil satu-satunya keju cedar yang ada di rak itu, dan ternyata tangan seseorang juga hendak mengambilnya. Aku segera melepaskan keju itu, “Oh silakan diambil,” kataku. Aku rasa orang itu sempat berterimakasih padaku. Aku pun langsung pergi ke rak tepung karena sebelum aku pergi Uti memintaku untuk membelikannya seplastik besar tepung terigu. Kuambil satu plastic tepung terigu lalu segera beralih. Ketika aku kesulitan menemukan selotip, aku bertanya kepada salah satu pegawai di supermarket itu dan pegawai itu membawaku ke tempat selotip ditata sedemikian rapi bersama beberapa alat tulis lainnya.
            Saat tanganku hendak meraih selotip bening itu, tanganku dihentikan oleh tangan seseorang yang rupanya adalah tangan yang sama dengan pemegang keju ceddar tadi.
“Ini, Nona. Untukmu saja,” orang itu menyodorkan kotak persegi panjang yang tidak terlalu besar yang ternyata adalah keju ceddar.
Aku mendongak ke pemilik tangan itu. sosok itu adalah seorang laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi. Jauh lebih tinggi dariku. Sayangnya, mataku tidak membohongiku karena saat ini yang berdiri tepat di depanku dan tengah menyodorkan keju cedar itu adalah orang yang sangat kukenali. Orang yang kucari. Dulu…
“Hai, Nona Vanya?” sapa Kanata Anggara Wiguna.
Tubuhku seperti dibekukan saat itu juga, kerongkonganku terasa kering dan perih. Tubuhku gemetar dan berkeringat dingin. Rasanya seperti ada sesuatu yang memeras perutku dan membuat jantung yang ada di dadaku meloncat-loncat tak terkendali. Lidahku terasa kelu dan tak tahu harus bicara apa. Aku juga tak tahu harus bagaimana. Aku hanya seperti patung yang bermimik kaget. Tapi aku punya satu keinginan pasti: menghilang dari hadapan orang itu dan dari tempat ini.
Beberapa detik kemudian, aku tahu, tubuhku tak lagi lumpuh. Segera saja aku menuju kasir yang sepi dan membayar tepung serta selotip itu dan cepat-cepat keluar dari supermarket itu. Dan tentu saja, seharusnya aku tahu kalau Nata akan mengikutiku.
“Vanya, tunggu!”
Orang itu memintaku untuk berhenti tetapi aku justru terus berjalan. Orang itu berlari dan aku juga berlari. Aku berlari semakin cepat sampai aku tidak menyadari ada lubang di jalan itu yang membuatku terjatuh menghantam aspal. Aku meringis kesakitan dan mencoba bangun kembali dan berlari lagi. Aku tahu lututku terluka tapi aku tak menghiraukannya. Aku hanya ingin pergi meninggalkan orang itu. orang yang dulu menjadi alasanku untuk mengorbankan sekolahku di London. Orang yang seharusnya sekarang membuatku tertawa bahagia karena telah menemukannya dan bukannya berlari menjauh seolah-olah orang itu akan menerkamku sewaktu-waktu. Tetapi sepertinya memang begitulah kenyataannya. Orang itu bisa melukai hatiku sewaktu-waktu—bahkan sekarang sudah begitu.
            Aku baru sadar bahwa cairan bening yang hangat mulai menetes dari kedua mataku. Aku mencoba menyeka airmataku sendiri dengan punggung tanganku seraya kakiku terus berlari menuju rumah. Begitu sampai di rumah, aku segera masuk ke kamarku yang pintunya terbuka lebar. Saat aku masuk, aku menemukan Aka yang tengah mengeluarkan seisi kotak pink milikku yang beberapa bulan yang lalu kutaruh di bawah tempat tidurku. Astaga! Apa lagi sekarang? Mengapa semuanya semakin memburuk?
            “Aka, kamu ngapain?!” tanyaku masih dengan wajah yang sembab. Bahkan air mata itu kembali menetes.
            Aku merebut foto-foto dan benda-benda lain yang berhubungan dengan Nata dan melemparnya ke seluruh ruangan sehingga membuat seluruh kamarku berantakkan. Aka hanya bisa menatapku dengan tatapan kaget dan penuh penyesalan. Ia mencoba meminta maaf padaku, tetapi sepertinya moodku sedang sangat buruk dan justru mengusirnya. Kedua mata Aka tampak sangat terluka dan itu membuatku enggan untuk menatapnya dan semakin keras untuk mengusirnya. Sampai-sampai Uti dan Akung datang dan memelukku untuk menenangkanku. Aku menangis tersedu-sedu sampai aku tak bisa melihat pangkal dari tangisanku. Aku hanya merasa sangat kacau. Dan perasaan itu membuatku tak terkendali. Aku benci keadaanku yang seperti ini. Ini semua karena orang itu yang bisa-bisanya muncul kembali dan membuat aku kacau untuk sekali lagi.
            Nduk, kamu ini kenapa lha kok nangis kayak gitu?” tanya Akung sesaat setelah tangisku mereda.
            “Nggak apa-apa Akung, tadi Vanya Cuma kesel aja sama Aka,”
            “Udah, minum teh anget ini dulu terus istirahat ya nduk,”Uti datang membawakanku secangkir teh hangat.
            Aku meminumnya sedikit lalu meletakkannya di atas mejaku. “Terimakasih, Uti, Akung,” kataku tulus.
            “Oh iya, tadi Aka memberikan Uti kresek belanjaanmu sama ini keju cedar yang katanya tadi dibawain sama temen kamu yang satunya,” kata Uti lagi.
            Aku hanya melirik sekilas kresek putih berlogokan supermarket yang kukunjungi tadi dan sebuah keju cedar yang tadi dibawa Nata. Dan tentu saja, yang dimaksud Uti dengan temanku yang lain itu adalah Nata. Itu berarti Aka sudah bertemu dengan Nata. Pikiranku kembali melayang ke mana-mana. sampai akhirnya Uti dan Akung menyuruhku untuk tidur saja. Aku mengiyakan walaupun aku tahu aku tidak akan bisa tidur. bagaimana bisa aku tertidur sedangkan Nata membayangiku sangat kuat bahkan lebih kuat dari hantu dan Aka yang telah kulukai. Lagi-lagi cairan bening yang hangat itu turun mengikuti gravitasi. Barulah aku sadar betapa perihnya lututku yang ternyata mengeluarkan cukup banyak darah. Aku memutuskan untuk mengobatinya sejenak lalu kembali ke kamar. Aku yang tak mampu memejamkan mata memilih untuk menyelesaikan album foto itu semampuku. Setidaknya membuatku mengerjakan sesuatu dan tidak hanya berbaring di tempat tidur untuk membasahi bantal dengan air mata dan ingusku.
###
            Langit nampak indah dengan warna jingga keunguan di ufuk barat. Pertanda bahwa matahari sedang mengucapkan selamat tinggal sementara. Bahwa sang dewa cahaya itu akan pergi untuk menerangi belahan bumi bagian lain dan baru akan kembali menerangi tempat ini lagi, kurang lebih dua belas jam lagi.
Tiba-tiba saja ingatanku kembali ke beberapa jam yang lalu saat bertemu dengan Nata dan mendapati Aka tengah membuka kotak pink “harta karun” ku. Semuanya terasa sangat buruk hari ini. Bahkan bunga mawar yang baru saja mekar di halaman depan terasa sangat menyedihkan di mataku saat ini.
            Aku menghembuskan napas berat seraya kembali mengumpulkan foto-foto dan benda-benda yang berhubungan dengan Nata. Kupandangi sekali lagi foto-foto itu. Foto-foto itu membuatku sadar akan sesuatu: bahwa aku tak pernah benar-benar berhenti menginginkannya untuk kembali. Bahwa aku tak benar-benar telah melupakan orang itu beserta kenangan yang telah terukir indah dan mempunyai ruang tersendiri di hatiku. Selama ini Nata tak benar-benar telah menghilang dari otak dan hatiku, hanya saja perasaan itu terselip di antara tawaku bersama Aka. Itu saja.
            Nduk, itu ada temenmu yang datang,” kata Uti sambil mengusap rambutku yang sudah mulai memanjang.
            “Siapa, Uti?” tanyaku.
            “Uti ndak tahu namanya, Uti baru sekali lihat. Oh, itu nduk! Yang ada di fotomu itu, lha ya itu orangnya,”
            Hatiku mencelos.
            Nata. Mau apa dia kemari?