Tentang Kami

Dipertemukan secara tak sengaja pada penghujung tahun 2011. memiliki minat yang sama. ketertarikan yang sama. mimpi yang sama.sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat karya bersama. KAMI para Manusia Abadi

Minggu, 07 Oktober 2012

TSMJ #10 (By Kanata)


Kejujuran yang Sangat Mahal

Di sana, kulihat dirinya sedang memesan semangkuk besar ice cream. Tetapi, sebelum sempat dia menyendokkan ice cream itu ke mulut, aku mendekatinya sambil tersenyum. Terbaca jika ekspresi yang dia lontarkan adalah sebuah kekagetan. Dia tak jadi makan dan malah menatapku dengan mata terbelalak.
Dia mengucek-ngucek matanya. Dia bertanya-tanya apakah ini nyata atau hanya sekilas imajinasi kosong? Aku tak bisa menyembunyikan senyum.
Dia sekilas menutup mata sebelum akhirnya membukanya lagi. Aku masih berdiri di hadapannya.  Sepertinya dia mulai menyadari bahwa aku memang nyata adanya.
Sejujurnya, bukan hanya dia yang kaget akan pertemuan ini. sedari tadi jantungku juga berdenyut liar. Aku juga tak percaya bahwa pertemuan ini akan terjadi di tempat ini, di waktu yang sungguh tak terduga seperti ini. Meski kaget, sesungguhnya aku sangat senang dipertemukan seperti ini. Matanya berkaca-kaca, bahagia karena telah bertemu denganku.
Tanpa benar-benar bisa kuduga dia bangkit dari duduknya dan langsung menghambur ke pelukanku.
“Syukurlah kita bisa bertemu...” Ujarnya.
Kutangkap aura kelam menguar dari tubuh Diane yang berdiri di sebelahku. Mulutnya mengerucut tanda sebal dengan kejadian ini. Tak ingin membuat keributan, aku mendorong tubuh Jane dengan halus.
“Kami tersesat.” Ujar Hyungjun di belakangku.
“Kami benci Indonesia!” Air mata Jane berubah menjadi kemarahan.
Aku tersenyum menenangkan. “lets have a seat and tell me what happened.
Setelah kami berempat duduk Jane mulai menyerocos mengenai pengalamannya berkeliling Indonesia dua minggu ini. Dimulai dengan ditipu oleh para pedagang suvenir di Bali, betapa tidak nyamannya penginapan di Lombok, harus membayar sangat mahal untuk masuk candi Borobudur hanya karena mereka “turis asing”, penerjemah yang sangat sulit dicari, makanan yang sangat mahal (lagi-lagi karena mereka turis asing), berkali-kali salah naik angkutan, hingga akhirnya terdampar di Bandung saat memutuskan untuk pulang ke Inggris lewat Jakarta.
“Oke, pertanyaan pertamaku adalah kenapa kau bisa bersama Hyungjun?” tanyaku pada Jane.
Bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah saling melempar senyuman. “Kau bisa menebak sendiri lah, Sobat.” Hyungjun nyengir tidak jelas.
“Dari pada itu, sungguh jahat kau tak memperkenalkan nona manis disebelahmu pada kami.” Tambahnya iseng.
Hi, my name is Diane. Nice to meet you.” Ucap Diane terbata-bata saat aku jelaskan maksud kalimat Hyungjun.
“Pacar Kanata ya?” Desak Hyungjun.
Diane mengangguk dengan terlalu bersemangat. Langsung dirinya merangkul lenganku dengan manja. Aku berusaha memasang muka setidak nyaman mungkin.
“Tiga hari kemarin kami juga ketemu Vanya.” Ucap Jane sambil menyendokkan eskrim ke mulutnya. “Dia juga punya pacar baru.”
Deg. Informasi langsung yang sungguh tak terduga. Entah kenapa aku sangat merasa tak nyaman mendengar hal tersebut.
“Maksudnya cowok item, tinggi itu?” Balas Hyungjun sambil mengerutkan kening. “Kayaknya mereka gak pacaran deh!”
Selesai mengucapkan itu kulihat Hyungjun meringgis kesakitan sementara Jane terlihat geram.
“Tapi mereka sangat dekat kan!?” Ancam Jane. Hyungjun mengangguk sembari meringgis karena takut dicubit pahanya lagi.
Karena tak ingin membuat suasana tak nyaman dalam hatiku terus berlanjut aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ngomong-ngomong dalam rangka apa kalian ke Indonesia?”
Kembali mereka saling melempar pandangan penuh arti.
well, sejujurnya kami hanya menghabiskan liburan musim dingin.” Ucap Jane.
“Sekolah sepi tanpa kamu, Kawan!” Cetus Hyungjun.
Sebenarnya aku juga lumayan kehilangan teman-teman multi-bangsa yang ada disana. Namun tentu saja aku tak mungkin terus memaksakan diri sekolah disana setelah apa yang terjadi hampir dua tahun silam. Sekarang aku sudah mulai terbiasa menganggap bahwa apa yang terjadi di sama hanyalah sekelebatan masa lalu yang tak seharusnya disesali dan diharapkan untuk kembali. Seperti tentang seseorang...
“Apa kalian sudah ada rencana selama di Bandung?” Celetuk Diane menggunakan bahasa Indonesia.
“Kan mereka sudah bilang mau ke Jakarta. Mereka mau kembali lagi ke Inggris.”
“Tapi kan sayang sudah jauh-jauh ke sini kalau gak keliling-keliling dulu?!” Diane mendesak.
“Gak. Mereka harus pulang. Pasti liburannya mau berakhir.”
“Kayak yang tau aja!” sisi egoisnya muncul dengan kuat/
“Jangan lupa, aku kan pernah sekolah disana!” kali ini aku tak mau menyerah. “Mereka pasti gak mau ikut kita!”
“Oh, ya? Kenapa gak tanya langsung?”
Hyungjun dan Jane mengangkat alis sebagai tanda ketidakmengertian. Meski enggan aku akhirnya menanyakan pada mereka apakah mau ikut dengan kami menghadiri kegiatan peresmian pusat konservasi alam di kawasan Ciwidey. Mereka mengangguk dengan sangat antusias, merasa lega telah bertemu denganku. Aku juga lega bertemu dengan mereka. Itu artinya aku memiliki alasan untuk tak ditempeli Diane setiap detik.
Sepanjang perjalanan selama lebih dari satu jam kami bertiga habiskan dengan bernostalgia tentang masa-masa yang sudah lewat. Sungguh menyenangkan berbagi cerita dengan orang-orang seperti mereka. Untuk sesaat kekosongan hati yang kurasakan sejak pulang ke Bandung terobati.
Bukan berarti aku tak bisa menikmati momen-momen kampung halaman, bertemu dan menjalin pertemanan baru di SMA, berbagi pengalaman dengan putera-puteri terbaik bangsa, meraih pendidikan di negeri sendiri. Tapi sejujurnya selalu saja hal-hal tersebut terasa kurang. Seakan aku telah kehilangan sesuatu yang sangat penting.
Kawah Putih. Terletak kira-kira 70 kilometer dari pusat kota Bandung. Salah satu destinasi wisata yang sangat sayang untuk dilewatkan jika berkunjung ke Bandung. Kawah Putih merupakan salah satu kawah gunung berapi yang masih aktif. Tempat ini memiliki hamparan belerang putih yang tersebar diseantero kawasan. Menjadikannya bagaikan pantai dengan kabut-kabut uap yang menguar setiap waktu. Batang-batang pohon tegak berdiri walau hanya memiliki sedikit daun. Aku pikir Kawah Putih merupakan sebuah negeri dongeng.
Demi menjaga eksotisme Kawah Putih, Ayahnya Diane menanamkan modal yang sangat besar untuk membangun sebuah pusat konservasi hewan dan tumbuhan khas daerah tersebut. Kegiatan kali ini adalah peresmian semacam gedung peragaan. Di dalamnya terdapat sebuah bioskop tiga dimensi tempat para pengunjung bisa berkelana keliling Kawah Putih dari masa ke masa secara virtual.
Ide yang sangat menarik dan sangat mulia, pikirku.
“Semakin tinggi keadaan seseorang sudah selayaknya semakin menghargai tempat asal kita dan tempat terakhir kita dalam kehidupan fana ini. Bumi.” Ujar Pak Wahyu ketika aku bertanya alasannya membangun tempat tersebut.
 “Kudengar Angga suka sains? Sepertinya nanti Bapak mandatkan saja pada Angga soal pengelolaan kawasan ini.” Tambah beliau. “Itung-itung berbakti sama mertua.” Ujarnya ditambahi dengan kekehan jahil.
Perjodohan itu lagi. Aku sudah mulai terbiasa mendengarnya dari semua orang. Namun aku belum –takkan pernah- terbiasa untuk menyetujuinya. Andai saja mereka tahu bahwa yang kuinginkan hanyalah menikmati waktu untukku sendiri tanpa digerecoki oleh pikiran-pikiran lain yang sebenarnya tak kuinginkan.
Pidato-pidato panjang dari orang-orang yang merasa dirinya memiliki andil besar dalam pendirian pusat konservasi ini masih bergaung dari panggung di kejauhan. Aku memilih untuk menyendiri di sebuah bukit yang terpencil. Menjauhi Diane yang terpaksa harus selalu berada di sebelah ayah dan ibunya. Menjauhi Jane dan Hyungjun yang berfoto heboh di sekitaran Kawah Putih. Menjauhi diriku sendiri. Menjauhi kenangan yang tiba-tiba berkelebat.
“Apa kau percaya bahwa Tongkat Sihir itu benar-benar ada?” Tanya Vanya saat kami duduk di salah satu bangku King Cross. Kami sedang memandangi sebuah tembok berplakat tulisan “platform 9 ¾”
“Apa kamu percaya?” aku balas bertanya.
“Kenapa tidak?” Jawabnya mantap.
“Kalau memang ada, akan kau gunakan untuk apa?”
Vanya berpikir serius untuk beberapa lama. Keningnya berkerut. Matahari membiaskan wajahnya. Sosok gadis yang duduk di sebelahku ini entah kenapa terlihat sangat indah saat itu.
“Aku akan membuat kebahagiaan!” Ujarnya diiringi tawa manis.
Giliran aku yang mengerutkan kening. “Bahagia? Caranya?”
“Inti tongkatnya adalah ekor burung merak, bahannya adalah kayu Akasia, panjangnya harus tepat 32,23 cm.” Dia mulai berceloteh. Rona kebahagiaan tergurat di wajahnya. “Dan warnanya harus merah muda!”
Kami tertawa bersama di sebuah stasiun asing yang sangat jauh dari rumah. Namun kami tak merasa asing. Karena kami bersama.
Dulu...
“Minggu kemarin kami bertemu dengan Vanya.” Tanpa kusadari Hyungjun sudah duduk di sebelahku.
“Kalian kan tadi udah cerita.” Jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari kolam belerang yang menggelegak di kejauhan.
“Lalu?” Tambahnya.
“Lalu apa?”
“Kau tak ingin mendengar cerita lengkapnya?”
“Tidak.” Jawabku singkat. Sesungguhnya aku ingin sekali mendengar sepotong pengalaman mereka bertemu dengan Vanya.
“Ya sudah kalau kau memang tak ingin mendengarnya.”
Kami terdiam sama seperti tahun-tahun yang aku habiskan bersama Hyungjun di negeri yang teramat jauh. Selain sebagai teman sekamar, Hyungjun merupakan sahabat yang sangat nyaman untuk berbagi cerita dan kegelisahan hidup. Sudah terlampau banyak tema yang kami bahas mulai dari yang ringan seperti cuaca, hingga yang tak memilik ujung dan pangkal seperti asal dan tujuan manusia hidup di dunia.
Hyungjun selalu mengerti jika aku sedang ingin menikmati ketiadaan kata. Seringkali kami hanya duduk bersebelahan. Memandangi satu titik di kejauhan. Tanpa kata sama sekali. kadang hingga berjam-jam lamanya.
“Kabarmu sendiri bagaimana?” Tanyanya. “Kulihat kau sedang dibayang-bayangi oleh gadis manja itu.”
Aku terkekeh. Senang atas pengamatannya yang cepat dan tepat. “Seperti yang kau lihat sendiri, aku hanya mencoba menjalani kehidupan.” Kerikil terbang dari tanganku menuju kolam.
“Kehidupan memang harus terus berjalan.” Dia melakukan hal yang sama, namun dengan jarak lemparan yang lebih jauh. “Tapi yang kulihat kau sedang lari dari sesuatu.”
“Ini soal Vanya lagi?” Tanyaku defensif.
“Kau tahu ini tentang apa.” Jawabnya kalem.
Hyungjun mengeluarkan secarik kertas dari tas kecil yang menggantung di pinggangnya.
“Kau tentunya mengenalku jauh lebih baik dari ini.” Ujarnya sambil menyerahkan kertas biru yang terlipat. “Soal kami yang tersesat di Bandung ini setengahnya adalah sebuah kebohongan. Sejujurnya kami – aku lebih tepatnya – memang sengaja mencarimu.”
Kubuka kertas tersebut. Kubaca perlahan. Sebuah gambar dan rangkaian kata menyulam makna disana. Hatiku mencelos bagai terjatuh dari gedung dua belas lantai kubaca berulang-ulang, berharap isinya akan berubah. Namun ternyata tulisan ramping rapi itu takkan pernah berubah maknanya. Hyungjun menatapku lekat.
“Kutemukan kertas itu di tempat sampah depan kamar Vanya dua tahun silam. Sepertinya dia tak punya keberanian untuk mewujudkannya.”
Aku membaca huruf demi huruf hasil goresan tangan Vanya tersebut. Sukar memercayai bahwa Vanya benar-benar menulisnya. Untukku!
“Aku tahu kau tak pernah melakukan kontak lagi dengannnya. Tapi tak kusangka keadaannya akan serumit ini.”
“Bagian mananya yang rumit?” Ujarku berpura-pura ini bukan hal yang penting.
“Kau tahu maksudku. Vanya mencintaimu. Kau yang berpura-pura tak menyadarinya dan memilih untuk lari dari perasaan yang terlanjur tumbuh di hati Vanya. Namun aku tahu pasti bahwa sesungguhnya kau kehilangan Vanya bukan sebagai sahabat, tapi sebagai seseorang yang lain.”
Aku diam tak menanggapi. Hyungjun melanjutkan. “Aku tahu pasti bahwa perasaan Vanya padamu masih ada. Namun aku juga berani berkata bahwa hal tersebut perlahan namun pasti sedang memudar. Vanya mulai bisa mengiklaskanmu.”
Dia diam kembali. Sengaja memberi waktu agar kata-katanya bisa meresap dalam sanubariku.
“Namun yang jadi pertanyaan adalah, “ lanjutnya. “Apa kau bisa merelakan Vanya bersam orang lain?”
Aku membaca kembali surat dari Vanya. Kertas yang kuduga sobekan sebuah buku harian memberi wadah bagi sebuah gambar loncong dengan dekorasi indah. Sebuah tongkat sihir impian Vanya. Dia menuliskans dengan detail tiap elemen-elemennya. Harus kuakui bahwa daya imajinasi dan kemampuannya mendeskripsikanny dalam narasi serta gambar sangatlah luar biasa.
“Bagaimana?” Desak Hyungjun.
“Sepertinya memang sudah saatnya aku menemui Vanya di Jogja dan mengatakan sebuah kejujuran.”
Hyungjun tersenyum. Aku tak tahu harus merasakan apa.
“Sihir pertama yang ingin aku daraskan menggunakan Tongkat Kebahagiaan ini adalah agar kita bisa selalu bersama hingga ajal memisahkan. Karena itulah kebahagiaan terbesarku. Semoga itu pula kebahagiaan terbesarmu.
Kulipat kembali kertas tersebut. Kusimpan baik-baik di saku kemeja.
Saatnya bagiku untuk membuat Tongkat Sihir Merah Jambu!

Senin, 24 September 2012

TSMJ #9 (By: Vanya)


BUKAN MIMPI

                “Jadi kamu datang ke pensi nggak, Nest?” tanyaku pada Arnest ketika kami melewati lapangan bola.     
“Ganteng banget, Nya! Sumpah ganteng banget!” seru Arnest seraya menatap langit mendung dengan tatapan tak focus. Mungkin kata “ganteng” itu sudah seribu kali keluar dari mulutnya dua minggu ini. Membuat telingaku memanas.
                “Aku tanya kamu datang ke pensi atau nggak, bukan minta pendapat soal Kak Revo  ganteng atau nggak,” kataku sedikit emosi.
                “Tapi asli! Ganteng!”
“Inget sama Romy!” balasku sedikit kesal.
                “Oh Gosh! Kamu bener, Nya! Lagi pula Kak Revo itu kan udah terlalu tua!” Arnest segera membuyarkan khayalannya itu dan menggeleng-gelengkan kepala cepat-cepat.
Ya. Alasan Arnest menjadi sedikit gila itu adalah Kak Revo yang dua minggu lalu kukenalkan padanya.
                “Lagian aku ga bakalan merestui kamu sama kakakku!” kataku bercanda.
                “Yeee! Apaan sih?!” Arnest menyikut lenganku pelan. “Tapi kok kamu nggak pernah cerita punya kakak cowok sih?”
                “Masa sih nggak pernah?” Arnest mengangguk penuh semangat. “Yah sori deh! Haha!”
                “Dia juga di Jakarta kayak Kak Vio ya?” Arnest memulai wawancaranya.
                “Nggak. Di Bandung.”
                “WHAT?!” Ekspresi yang sudah kutunggu. Kalau aku jadi Arnest aku akan bereaksi sama seperti itu. “Terus, kenapa kamu nggak—“
                “Mama nggak ngebolehin,”jawabku sebelum pertanyaan Arnest terselesaikan.
                “Terus seminggu kemarin ngobrol apa aja sama kakakmu yang guanteng itu?”
                Aku berpikir sejenak. Banyak yang telah aku ceritakan kepada Kak Revo. Bahkan lebih banyak daripada kepada Kak Vio. Bisa dibilang, Kak Revo tahu secara lengkap semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Ada beberapa pembicaraan yang menurutku bahkan sedikit gila. Aku tak yakin ingin menceritakan ini semua pada Arnest.
                “Nest, udah ditunggu di perpus. Yuk!” kata sebuah suara yang ternyata milik Romi yang tiba-tiba muncul di samping kami. Romi datang tepat pada waktunya. Dengan begitu, aku tak perlu menjawab pertanyaan Arnest itu.
***
2 minggu yang lalu…
                Hari ini, seperti hari Minggu yang lainnya, aku bangun agak siang. Jendela kamarku sengaja tak aku sibak karena aku sedang tak peduli dengan apapun termasuk cuaca hari ini. Segera saja kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mandi. Barulah setelah itu aku menuju dapur dan menemukan Uti sedang membuat  teh di sana.
                “Uti, Vanya mau sarapan,” ucapku sembari membantu Uti mengaduk secangkir teh.
                “Lha itu, sarapannya ada di meja. Uti sama Akung sudah sarapan tadi,” Uti tersenyum ramah dengan satu tangan yang sibuk mengaduk teh yang satu lagi. “Sarapan dulu sana, Uti mau nganterin teh ini buat Akungmu itu,” lanjut Uti. Lalu dibawanya dua cangkir teh itu keluar dari dapur.
                Aku segera mengambil piring kosong. Baru saja aku akan mengambil nasi di meja, aku mendengar bel rumah berdenting pertanda ada seseorang di luar sana. Entah mengapa aku terpanggil untuk membukakan pintu. Kuputuskan untuk bangkit dari tempat dudukku dan berlari-lari kecil untuk membukakan pintu itu.
                Ketika aku membuka pintu, kakak pertamaku sedang berdiri di depan pintu dengan sebuah tas ransel hitam di punggungnya. Hal pertama yang aku lakukan adalah memeluk orang itu. Kak Revo mengacak rambutku penuh sayang.
                “Kak Revo kok bisa ke sini?” tanyaku setelah puas memeluknya.
                “Pengen ketemu sama adik gua yang katanya lagi bermasalah ini,” Kak Revo sedikit terkekeh lalu melangkah masuk.
                “Siapa tamunya, Nduk?” Uti tiba-tiba muncul dari halaman belakang.
                Sebelum sempat aku menjawab, Uti sudah memekik kegirangan melihat cucu laki-lakinya sedang berdiri di depannya. “Ya ampuun! Revo! Walah, sudah lama nggak pernah ke sini. Uti sama Akung kangen ini,” Uti memeluk dan mencium Kak Revo dengan penuh rasa rindu.
                “Iya, maaf Uti. Revo jarang ke sini,” kata Kak Revo tulus.
                “Ya sudah, ayo ayo istirahat dulu. Uti mau kasih tau Akung dulu,” Uti kembali ke halaman belakang dengan langkah semangat.
                “Sarapan dulu aja Kak,”kataku setelah Uti pergi.
                “Udah sarapan. Gua mau tidur aja dulu,” Kak Revo langsung melangkah menuju kamarku. Setelah berbicara sebentar dengan Uti dan Akung, Kak Revo pun benar-benar tertidur pulas. Sementara aku melanjutkkan sarapanku dengan tenang.
                Begitu sore datang, aku menemukan Kak Revo sedang sibuk menelepon seseorang. Dari raut wajah Kak Revo, aku tahu, yang Kak revo sedang bicarakan itu adalah sesuatu yang sangat penting. Setelah telepon itu berakhir, aku mendekati Kak Revo yang bediri di bawah pohon kamboja.
                “Ngomongin apa sih Kak? Kok serius banget?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
                “Persiapan buat Olimpiade,” jawab Kak Revo singkat lalu kembali sibuk dengan Blackberry-nya. Entah olimpiade apa yang Kak Revo maksud, aku tak ingin tahu lagi.
                “Gimana, Nya?” tanya Kak Revo setelah berhenti mengutak-atik Blackberry-nya itu.
                Aku menatap Kak Revo. “Gimana apanya?”
                “Sekolah lo yang baru. Lo nggak nyesel kan?”
                “Nggak kok, Kak. Vanya udah mulai nyaman di sini,”
                “Kakak udah denger ceritanya. Tapi, kakak belum begitu percaya kalo nggak lo sendiri yang cerita,” kata Kak Revo sambil merangkul pundakku. “Tapi kakak nggak maksa kalo lo nggak mau cerita. Tujuan kakak ke sini cuma pengen tahu keadaan lo,” bibir Kak Revo melengkung tersenyum. Membuatku ikut menarik bibirku, juga tersenyum.
                Tanpa pikir panjang, aku menceritakan semuanya kepada Kak Revo. Kuceritakan semuanya dari nol. Mulai dari aku ke London dan akhirnya aku pulang dari London dengan perasaan yang campur aduk. Seperti biasanya ketika aku bercerita sesuatu pada Kak Revo, Kak Revo hanya mendengarkanku dan sesekali membenarkan ucapanku dan kadang mengerutkan keningnya. Setelah aku selesai bercerita, barulah Kak Revo angkat bicara.
                “Cerita versi Vio dan versimu sedikit berbeda,” katanya. “but it’s ok. Biarin apa yang harus terjadi itu terjadi. Tuhan punya rencana lain, Nya. Lupain masa lalu yang bakalan menghambat masa depan,” sekali lagi Kak Revo tersenyum hangat.
                “Tapi Vanya kangen, Kak. Vanya pengen ketemu Nata. Kakak mau kan cariin Nata buat Vanya? Toh Kak Revo kuliah di Bandung dan Nata juga di Bandung,”
                “Bandung itu nggak kecil, Vanya. Biarkan semuanya terjadi . Kalau memang cerita kalian belum selesai, pasti kalian bertemu lagi. Percaya sama kakak,”Kak Revo menguatkanku.
                Sekarang aku mengerti betapa berbedanya kedua kakakku ini.  Kak Revo yang lebih banyak mendengar dan Kak Vio yang lebih banyak untuk di dengar. Semua terlihat sangat jelas sekarang. Dan aku juga berusaha percaya dengan setiap kata-kata Kak Revo.  Dia benar, jika kisah ini belum menyentuh kata selesai, aku pasti bisa bertemu dengan Nata lagi.
***
                “Vanya?!” suara Aka membuyarkan pikiranku yang untuk beberapa saat melayang-layang tak menentu.
                “Oh, iya? Kenapa, Ka?” tanyaku setelah berhasil mengembalikkan pikiranku.
                Aka yang entah sejak kapan ada di sampingku itu mengerutkan kening, lalu bertanya. “Kamu yang kenapa?”
                “Aku nggak pa-pa lagi. Aku cuma—aaaaaaarrghhh!!!” sesuatu yang keras menampar wajahku, membuatku terhuyung jatuh. Segera saja kututupi wajahku dengan kedua tanganku. Rasanya sesuatu yang panas mulai menyerubungi wajah sebelah kananku. Lalu aku mulai mendengar suara-suara khawatir yang terus menanyai keadaanku. Beberapa, aku mengenal suara dari orang-orang itu, dan sisanya sangat asing di telingaku.
                “Kamu nggak pa-pa Vanya?” aku berhasil menangkap suara Aka.
                Aku mulai menurunkan tanganku. “Iya, aku nggak pa-pa kok,” kataku dengan kepala yang berdenyut-denyut.
                “Kamu mimisan,” kata Aka lagi.
Dengan gerakkan yang singkat, ia memegang lenganku dan berniat untuk membantuku berdiri. Dengan gerakkan yang singkat pula, aku menghempaskan tangan Aka dari lenganku dan aku berusaha berdiri sendiri.
                “Aku baik-baik aja kok,” kataku pada semua orang yang mengerubungiku.
                “Sorry ya, Dek. Aku nggak sengaja,” kata seorang kakak kelas berbadan tinggi besar.
                Aku melirik sekilas ke arah bola yang ada di tangan kakak kelas itu. sekarang aku mengerti bahwa sesuatu yang membuat wajahku panas itu adalah bola yang melesat cepat. Aku mulai muak dengan bola.
                “Iya Mas nggak pa-pa,”kataku pelan.
                Setelah itu, kerumunan itu mulai membubarkan diri. Tinggallah aku dan Aka di tempat ini. Aka masih menatapku dengan penuh kekhawatiran. “Kamu mimisan,” Aka mengulang kata-katanya lagi.
                “Iya aku tahu. Cuma dikit kok,” aku mengelap sedikit darah yang keluar dari hidungku.
                “Aku antar kamu ke UKS,” Aka menggandeng tanganku. Tak selangkahpun aku bergerak. Justru yang kulakukan adalah berusaha melepas genggaman Aka. Entah kenapa, sentuhan Aka membuatku merasa tak nyaman. Aku merasa risih dengan keberadaan Aka. Aku merasa seharusnya dia tak ada di sini.
                Aka menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku pahami. Mata Aka seperti tertutup kabut tebal yang tak bisa ditembus. Aku sedikit terkejut melihat ekspresi Aka itu.
                “Oke, lebih baik aku antar kamu pulang,” kata Aka lagi. Dengan tak enak hati, aku mengiyakan kata-kata Aka yang satu ini. Aku tak mau Aka berpikir aku tak menghargai perhatian yang ia berikan untukku.
                Entahlah, aku merasa sesuatu yang buruk menghantuiku di belakang punggungku seperti bayangan yang selalu mengikuti. Aku tak menyukai perasaan seperti ini.
***
                “Vanyaaaaaaaaaaaaaa!!!” seru Arnest ketika kau baru saja memasuki halaman sekolah.
                “Vanya! Katanya kamu nggak dateng ke pensi? Kok sekarang ada di sini?” tanya Arnest penuh rasa heran sekaligus senang.
                “Nggak tahu, berubah pikiran. Jadi pengen dateng aja,” aku tersenyum lebar lalu mengajak Arnest mendekat ke stand minumam yang berada di paling pojok halaman sekolah.
                Pensi sekolah ini cukup ramai. Dengan panggung yang cukup besar berdiri di tengah-tengah halaman sekolah, dan orang-orang yang dengan penuh antusias ikut bernyanyi-nyanyi bersama di dekat panggung. Beberapa band yang mengisi acara pun tak kalah antusias untuk menghibur. Begitu ramai.
                “Oh, kamu ada di sini,” kata sebuah suara yang begitu aku kenal.
                “Aka?” aku tersenyum.
                “Pergi aaaah. Takut ganguuu,” tanpa menunggu aku bicara sepatah kata pun, Arnest segera melesat pergi meninggalkanku bersama Aka. Keadaan ini membuatku merasa sedikit canggung.
                “Mau beli minum apa?” tanya Aka.
                “Hah? Hmm… soda aja deh,” jawabku sekenanya.
                Setelah Aka berhasil membuatku tak mengeluarkan uang untuk membayar soda itu, Aka mengajakku mendekat ke panggung. Sayangnya aku tak menyukai hal-hal sepeti meloncat-loncat sambil bernyanyi seperti yang sedang orang-orang itu lakukakan. Lalu, Aka mengajakku duduk di kursi yang berdiri tak jauh dari tempat kami. Seperti kejadian di lapangan bola beberapa hari yang lalu, Aka kembali menggandeng tanganku dan kuhempaskan begitu saja. Aku merasa tak nyaman dengan sentuhan Aka itu. Lagi-lagi Aka menatapku dengan tatapan yang tak bisa kupahami.
                “Kamu nggak mau aku gandeng?” katanya to the point.
                Aku mematung. “Aku cuma…  nggak suka aja,” kataku jujur.
                “Apa kamu juga nggak suka dengan keberadaanku?”
                Kali ini aku benar-benar terkejut. Setengah mengiyakan kata-kata Aka setengah tak ingin mengakuinya. Akhirnya hanya diam yang kulakukan. Dan Aka pun berlalu begitu saja.
                Aku menatap punggung Aka yang menjauh perlahan lalu tertelan puluhan punggung yang lain. Untuk beberapa detik, aku tak bergerak sama sekali. Lalu aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Kuhentikan sebuat taksi kosong di depan sekolah lalu meminta sopir itu untuk mengantarku ke sebuah café ice cream di dekat sekolah.
                Di sana, aku memesan semangkuk besar ice cream. Tetapi, sebelum sempat aku menyendokkan ice cream itu ke mulutku, seseorang menyapaku sambil tersenyum. Orang itu membuatku hampir mati saking kagetnya. Ice cream yang baru saja akan kumakan itu, tiba-tiba saja ingin segera kubuang.
Aku memejamkan mataku sesaat. Ya Tuhan, apakah yang kulihat ini nyata adanya? Ataukah ini hanyalah sebuah khayalan?
Aku kembali membuka mataku dan masih mendapati orang itu di depan mataku. Lalu aku mulai percaya, bahwa ini nyata. Ini bukan khayalan, apalagi mimpi.
Jantungku yang semula berdenyut normal mulai menggila. Tak kusangka, hanya dengan melihat orang itu, jantungku melonjak liar seperti akan keluar dari rongganya. Aliran rasa senang pun mengaliri tubuhku. Mataku mulai memproduksi cairan hangat yang kemudian menetes membasahi kedua pipiku. Semua ini terjadi begitu saja, tanpa bisa kutahan. Tanpa bisa kucegah.

Kamis, 30 Agustus 2012

TSMJ #8 (By Kanata)


Dia Yang Lain

“Woi! Mau tidur sampe kapan!?” Suara Vanya mengganggu ketenangan telingaku.
“Kapan aja boleh.” Balasku sambil membalikan badan memunggunginya. “Just leave me alone!” Tambahku sambil melambaikan tangan sebagai tanda pengusiran.
Wake up, Sleeppy Head. Ini hari besar buat kamu.” Dia masih saja gigih menggoyang-goyangkan badanku.
Perlahan aku membuka mata. Tentu saja bukan kamar asrama yang tersaji di hadapanku. Dan suara ribut tadi juga bukan Vanya.
“Gimana tidurnya?” Tanya Diane sambil nyengir.
“Tidurnya oke. Bangunnya enggak.” Ucapku ketus.
Setelah melihat sekilas jam yang tergantung di dinding kamar aku langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Aku masih tak habis pikir dengan kekuatan mental yang dimiliki oleh Diane. Hanya butuh seminggu baginya merajuk dengan tak menghubungiku sama sekali (seminggu yang teramat damai, sebetulnya). Namun pada hari kedelapan, PLOP, dia muncul begitu saja dan bersikap tak ada kejadian apapun. Sukar dipercaya, keluhku dalam hati.
Diane benar, ini memang hari besarku. Setelah persiapan intensif selama berbulan-bulan akhirnya hari ini datang juga. Hari olimpiade sains. Sambil menikmati tiap tetesan air yang mengaliri tubuh aku berusaha mengingat-ingat kembali presentasi yang harus aku sajikan di depan dewan juri. Aku yakin akan bisa memukau mereka. Semoga.
“Bajunya sudah saya siapkan, Tuan.” Ucap Diane yang menenteng celana abu-abu dan kemeja putih, seragam sekolahku. Aku mengambilnya dari tangan Diane tanpa berkata apapun.
“Mau saya bantu pakaikan?” tambahnya sambil tersenyum mencurigakan. Aku langsung bergidik memikirkan maksudnya.
“Oh, tidak, tidak, tidak.” Jawabku sambil mendorongnya keluar kamar.
Pintu terbanting di depannya. Dan agar lebih yakin aku pasang gerendel sekalian. Aku mendengus kesal. Apa sih yang ada dipikiran anak-anak jaman sekarang? Sepertinya Diane terlalu banyak menonton film dewasa sehingga di usia segitu tingkahnya tak ubahnya seperti mbak-mbak 21 tahun keatas.
Seperti yang sudah aku duga juga Diane bersikeras mengantarku hingga lokasi kegiatan. Sepanjang jalan tak hentinya mulut Diane mengoceh. Mengajukan pendapat dan pertanyaan-pertanyaan tak penting. Aku memilih pura-pura tertidur. Ocehan Diane baru berhenti setelah accord hitam yang kami tumpangi tiba di pelataran parkir Sabuga. Buru-buru aku keluar menuju lobi tempat diriku janjian dengan teman-teman sekolahku yang lain. Diane mengekor.
Sepertinya aku yang tiba paling akhir karena bahkan Pak Rendi (yang 99% dipastikan selalu terlambat) sudah hadir. Beliau tersenyum sementara para anak didiknya bersiul saat mendapati aku datang bersama Diane.  
“Jangan nanya!” Wira menutup kembali mulutnya. Suasana hatiku lumayan buruk sejak bangun tidur tadi, dan aku tak ingin bertambah buruk dengan mendengar komentar-komentar teman-temanku soal Diane.
“Oke. Semuanya sudah kumpul. Kita pengarahan dulu sebentar.” Ucap Pak Rendi menyuruh kami membentuk lingkaran di sekitarnya.
Kemudian dia menjelaskan segala macam hal yang harus kami lakukan (dan yang tak boleh kami lakukan) selama kegiatan. Aku tak benar-benar menyimak ceramahnya karena Diane menempel erat di sebelahku, membuat aku luar biasa risih.
“Mungkin kamu belum makan.” Tanpa aku sadari Fiona sudah berada di sebelah kananku, membuat aku diapit antara Diane dan Fiona. Dia menyodorkan tupperware kecil. “Aku bikin roti isi. Mudah-mudahan kamu suka.” Dia hanya memandangku sekilas.
Kuterima pemberiannya dengan ekspresi perpaduan terkejut dan senang. Kurasakan energi negatif dari Diane sementara Fiona kembali menyelusup keluar kerumunan dengan muka merah.
“Sekian yang bisa Bapak sampaikan. Semoga keberuntungan berpihak pada kita.”
Kami membubarkan diri, menuju tempat lomba masing-masing.
#
Satu persatu para peserta mempresentasikan makalahnya. Sejujurnya hasil penelitan mereka sangat bagus. Beberapa diantara mereka bahkan membawa objek penelitiannya. Seperti seorang peserta dari Lampung yang sedang mendemonstrasikan hasil temuannya tentang nyanyian anggrek. Suara lembut mendayu-dayu mengisi ruangan.
Masih ada dua peserta lagi sebelum giliranku tampil. Aku yang menjadi urutan terakhir. Antara ingin agar giliranku masih lama dan ingin segera selesai, aku duduk dengan perasaan sedikit gelisah. Segala yang telah aku siapkan selama ini tiba-tiba saja seperti menguap seperti embun menjelang siang. Kebiasaan lama, aku kembali melamun.
Seperti kegiatan setiap akhir tahun ajaran, sekolah kami mengadakan kompetisi semacam “treasure hunter”. Tiap tim akan mendapat satu petunjuk yang mengarah pada petunjuk berikutnya sebelum akhirnya menemukan “harta karun”. Tentunya tema acaranya berbeda setiap tahun. Pada tahun keduaku (yang artinya tahun pertama Vanya), dia memohon-mohon apdaku agar bersedia menjadi pasangan dirinya dalam lomba tersebut.
“Ayolah, Nata. Kita ikutan ya?! Demi negara kita.” Ujarnya dengan muka sememelas mungkin.
“Jangan hanya gara-gara temanya Asia Tenggara, bukan berarti clue-nya mudah loh.” Aku beragumen. “Kamu tahu kan kalo Nguyen, anak tingkat 9, disebut Setan dari Timur gara-gara pengetahuannya yang luar biasa tentang Asia?”
“Kamu lupa ya kalo panitia tahun ini anak-anak Vietnam? Jadi secara teknis dia tuh gak boleh ikutan lomba.”
Tentu saja aku tahu hal tersebut, “Tapi bukan berarti semuanya mudah. Pasti banyak peserta lain yang gak kalah bagus. Contohnya Diki, temen seangkatanku dari Indonesia. Terus Winda, Gregorry, Hwang, Sayuri. Kita gak mungkin bisa kalahin mereka. Inget! Kita cuman jago dalam dunia sihir! Bukan dunia nyata!” Aku terus saja berargumen.
Vanya merenggut, “kan kita bisa lakukan persiapan dulu seminggu ini. Menghapal.”
Sejujujurnya aku juga ingin mengikuti lomba yang sudah menjadi tradisi di sekolah kami ini. Tapi aku malas memikirkan apa yang akan terjadi jika sampai kalah. Hanya satu tim yang akan jadi pemenang dan mendapatkan hadiah liburan eksklusif. Sementara tim yang kalah harus menjadi sukarelawan sosial selama tiga bulan (yang artinya takkan bisa menikmati liburan sama sekali).
Aku akhirnya menyerah. Mendaftarkan diri. Menghabiskan waktu berjam-jam bersama Vanya di perpustakaan dan depan layar komputer. Ikutan lomba. Lupa semua yang telah dibaca. Nyasar kemana-mana. Dan tentu saja kalah. Semua berkat Vanya.
Sepanjang kegiatan menjadi sukarelawan di panti jompo tak hentinya Vanya mencoba melakukan semua tugasku sebagai tanda permintaan maaf. Tentu saja aku akan menolak tawaran Vanya tersebut dan melakukan tugas yang memang seharusnya aku lakukan. Lagi pula toh baik kegiatan lombanya maupun menjadi sukarelawan bersama dia kurasa cukup menyenangkan untuk dilakukan.
Lamunanku berhenti ketika pembawa acara memanggil namaku untuk tampil. Setelah mengambil napas panjang untuk mengurangi rasa gugup aku maju menuju panggung dan mulai melakukan presentasi sebaik yang aku mampu.
Para penonton bertepuk tangan (teman-temanku bertepuk tangan sedikit berlebihan). Aku membungkukkan badan pada para juri sebagai tanda penghormatan terakhir. Kelegaan mengisi paru-paruku. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah pasrah terhadap penilaian juri.
Saat sedang menuju kursi penonton sekilas kutangkap sebuah bayangan yang membuat hatiku sedikit mencelos. Vanya sedang berdiri di ambang pintu! Tersenyum dan mulai berjalan mendekatiku.
“Hai, lo pasti Kanata yang sering dia ceritain.” Ucapnya dengan suara berat khas pria.
Aku menerima uluran tangannya untuk bersalaman. Bentuk alis, bentuk rahang, bentuk mata, bentuk mulut. Kulihat sebuah gambaran yang sangat familiar pada dirinya.
“Kenalin, nama gua Revo.” Ucapnya sambil tersenyum. Bahkan senyumnya mirip Vanya. “Ada waktu sebentar? Kita ngobrol-ngobrol.” Tanpa menunggu persetujuanku Revo berjalan keluar ruangan. Aku mengekor di belakangnya.
Ya, dia Revo, abangnya Vanya yang pernah aku lihat dalam salah satu foto. Aku sungguh tak mengira kemiripannya akan seperti ini.
#
“Udah lama di Indonesia?” Ucapnya setelah menyodorkan sebotol teh kemasan.
Kami berdua duduk sambil memandangi sekelompok orang bermain basket di salah satu lapangan.
“Udah hampir setahun setengah ini pulang ke Bandung.” Aku menjawab pertanyaan yang dia ajukan.“Aku gak tau kalo Kakak kuliah disini.”
“Ck... Panggil nama aja! Gua gak suka dipanggil kayak gitu. Kesannya udah tua!” Dia membuka sebungkus besar keripik.
Aku mengangguk meski masih canggung. “Vanya sering cerita tentang lo.”
“Cerita tentang apa?”
“Macem-macem. Kayaknya tiap dia cerita selalu aja setidaknya nama lo disebut minimal sepuluh kali.” Dia menyodorkan keripik. Aku mengambil segenggam hanya demi kesopanan.
“Oh gitu?” Ujarku terkejut. “mungkin itu karena kami bersahabat baik selama disana.”
“Gua juga yakin gitu.” Keping demi keping keripik masuk ke mulutnya. Ternyata cerita Vanya benar bahwa kakak tertuanya ini sangat hobi makan (namun anehnya bertubuh kurus kering).
“Tapi katanya kalian berbagi banyak hal disana, tapi tak satupun hal kalian bagi selama disini.” Tambahnya tanpa memandangku.
Perasaanku lumayan tergores mendengarnya. Dia tahu bahwa aku tak membalas satupun email Vanya. Dia tahu bahwa aku tak sekalipun menelepon Vanya, bahkan hanya untuk berbasa-basi. Dia tahu, aku yakin itu.
“Kenapa?” Ujarnya melirikku sekilas. Tanpa tuduhan, tanpa kemarahan, tanpa kekecewaan. Itu adalah murni sebuah pertanyaan.
“Aku tak tahu...” Jawabku tanpa berani melihat wajahnya. Jawaban yang tak sepenuhnya jujur, namun juga bukan sebuah kebohongan.
“Lo pasti gak bakalan percaya kalo gua bilang Vanya ngancem gua agar mau nyariin lo. Waktu itu gua ngerasa gak perlu nyari, biarlah takdir yang mengatur pertemuan kita.” Dia terkekeh senang. “Dan ternyata feeling gua tepat kan? Lo sendiri yang datang kemari.”
“Dimana Vanya sekarang?”
“Pura-pura gak tau lagi! Pasti dia cerita di salah satu emailnya! Ya kan?”
“Aku gak pernah buka lagi email yang itu. Lupa password-nya.” Satu kebenaran dan satu kebohongan kulontarkan.
Revo mengangkat sebelah alisnya. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan namun dia tak mengucapkan apapun.
Well, apapun masalah kalian sebaiknya selesaikan bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Jangan lari dari masalah!” Revo bangkit dari duduknya. Menepuk-nepuk bagian belakang celananya untuk mengilangkan debu. “Sayang sekali persahabatan kalian jika harus berakhir seperti ini.”
Dia mulai berjalan menuju gedung Sabuga, melanjutkan tugasnya sebagai salah satu panitia. Dua belas langkah berjalan dia berhenti sejenak. Memandangku.
“Jika kau lebih suka menyebut kebersamaan kebersamaan kalian itu sebagai sebuah persahabatan.”
Revo melontarkan sebuah kalimat yang selama hampir dua tahun ini menghantuiku bagai Dementor yang menunggu untuk memberi kecupan.
Vanya... Apa arti dia bagiku?